.


Download Emulator SEGA untuk PC

By : Fitrah Ali Yusuf Abdillah
Assalamualaikum kawan, pada kesempatan ini, saya akan share sebuah software emulator.Tau apa itu emulator? Emulator ini adalah simulasi dari sebuah alat.Dan emulator yang akan saya share adalah emulator game SEGA.Yup sebagaimana yang kita ketahui, SEGA ini adalah sebuah konsol game era 90-an yang mana saya sendiri dahulu sangat suka memainkannya.Mulai dari game Sonic, Talmits Adventure, dan lain-lain.Emulator ini bisa dimainkan di dalam PC atau laptop kawan.Oke berikut sedikit screenshot dari emulatornya :

filsafat-pemula.blogspot.com
Hahaha, bagi kalian yang ingin bernostalgia dengan game ini, saya rekomendasikan sebuah software emulator yang saya fikir ini emulator paling keren.Yup, berikut link downloadnya :


Membuat Glow Teks Online

By : Fitrah Ali Yusuf Abdillah
Pada kesempatan ini saya mau berbagi bagaimana membuat sebuah teks yang glow atau berkilauan.Oke, kali ini agak sedikit curcol yah :v , banyak memang tutorial di internet mengenai bagaimana cara membuat glow teks dengan menggunakan tool seperti adobe photoshop atau corel draw, tapi itu agak sedikit sulit.Dan allhamdulillah pada kesempatan ini, saya mau berbagi bagaimana membuat sebuah teks menjadi berkilauan dengan online tool,
Berikut contohnya :
http://filsafat-pemula.blogspot.co.id/

http://filsafat-pemula.blogspot.co.id/

http://filsafat-pemula.blogspot.co.id/

http://filsafat-pemula.blogspot.co.id/

http://filsafat-pemula.blogspot.co.id/
Bagaimana? keren bukan, oke, pada dasarnya anda bisa membuat tulisan apapun dengan style apapun di website itu, anda juga bisa memberi ukuran bebas pada gambar tersebut.Oke, tanpa panjang lebar, berikut link websitenya :

Clover

By : Fitrah Ali Yusuf Abdillah
http://filsafat-pemula.blogspot.co.id/
Clover merupakan sebuah software untuk mengoperasikan windows exploler yang fungsinya lebih baik dari pada exploler bawaan windows.Bagi anda yang suka copy paste, tentunya software ini merupakan pilihan, karena terdapat fungsi newtab layaknya seperti yang ada di browser.Dengan fungsi ini, kita bisa mengkopi file ke banyak tempat dengan sangat mudah.
berikut screenshotnya :
http://filsafat-pemula.blogspot.co.id/
Pada Bagian atas, terdapat fungsi newtab, dan untuk kembali ke folder sebelumnya, anda cukup klik 2x di sembarang tempat.Simpel bukan?.Saya sendiri menggunakan software ini untuk mempermudah saya dalam mengoperasikan windows exploler.
Berikut link downloadnya :



Tag : ,

Tasawuf Menurut KH. Said Aqid Siradj (Bagian 1)

By : Fitrah Ali Yusuf Abdillah



Pertama-tama, tasawwuf bukan merupakan akhlak, disini terdapat kerancuan orang yang menyamakan antara tasawuf dan akhlak.Apabila ada orang yang memiliki akhlak yang mulia, belum tentu dia seorang sufi.Intinya ialah Tasawuf bukan merupakan ilmu akhlakul karimah.
Kedua, tasawuf juga bukan merupakan ilmu hikmah, atau ilmu kebatinan atau ilmu perdukunan.Barangsiapa yang menjalankan ilmu hikmah sesuai dengan prosedur yang ditunjukan oleh kitab hikmah, dan kemudian berhasil, ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan tasawuf.Contoh, bila ada seorang yang mampu mengobati seseorang dengan air do'a nya atau seseorang yang mampu berjalan di atas air atau apapun, ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan tasawuf.
Ketiga, tidak ada kaitannya bilangan kuantitas ibadah dengan tasawuf.Contoh, apabila seseorang yang rajin shalatnya, mengajinya, dan lain-lain.Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan tasawuf.

Kembali kepada permasalahan,Terdapat banyak definisi Tasawuf secara harfiah atau bahasa.Berikut beberapa definisi tasawuf menurut beberapa ahli.
1. Abu bakar al kalabadi
Pertama, Tasawuf berasal dari kata "sofaaun" yang artinya bersih atau jernih pendapat ini menurut Abu bakar al kalabadi dalam kitabnya "At-Taarruf li mazhabi ahli tasawuf.Mengapa "sofa", karena tujuan tasawuf ini adalah "li sofail insan an kadurotil basyariah"yang artinya untuk membersihkan hati.

2. Ibnul Jauzi
Kedua, tasawuf berasal dari kata "suffah" suffah merupakan nama julukan sebuah tempat di madinah.Ahlussuffah merupakan orang yang tinggal di serambi masjid madinah.Ini merupakan tempat tinggal para Muhajirin yang datang ke madinah.Jumlahnya kurang lebih 10 orang.Dalam prosesnya, para anggota ahlussuffah ini tidak saling megenal satu sama lain, akan tetapi menjadi saudara yang kuat, pertemanan yang tulus.Salah satu orang yang menjadi ahlussuffah ialah Abudzar Al-Ghiffari.Orang tasawuf ini mengikuti akhlak dan sikap ahlussuffah ini, yakni pertemanan yang tulus, persahabatan yang ikhlas.Walaupun tidak mengenal satu sama lain.Pendapat ini didukung oleh Ibnul Jauzi dalam kitabnya talbis iblis.

3. Pemuda Jahiliah
Ketiga, Diceritakan pada masa jahiliah ada seorang ibu yang sangat mendambakan anak laki-laki.Kemudian Ibu ini bernadzar bila mempunyai anak laki-laki, maka ia tidak akan mempekerjakannya.Ia akan mempersembahkannya untuk berkhidmat, melayani baitullah (ka'bah).Kemudian ibu ini dikaruniai anak laki-laki.Ketika beranjak dewasa.Anak laki-laki ini tiba-tiba pingsan.Kemudian ibu ini melihat dan berkata "Masoro ibni ila suufah" yang artinya, anak saya sekrang sudah lemas seperti kain lap.Maka, kata suufah ini di artikan kain lap dan dinisbatkan kepada sufi.Kemudian timbul pertanyaan, apakah mau kita menisbatkan para sufi-sufi besar kepada orang yang hidup di masa jahiliah.

4. Abdul Karim Al Kuysairi
Keempat, Menurut Imam Abdul Karim Al Kuysairi.Tasawuf berasal dari kata "Suuf", maknanya bulu domba.Bulu domba ini berbau tidak sedap dan teksturnya kasar dan keras.Dari sisi bahasa ini benar, jadi ahli tasawuf ini tidak mementingkan kepentingan tampilan lahiriah.

Untuk lanjut ke-bagian 2, silahkan cari di Blog ini.
Tag : ,

Teologi Islam Transformatif (Buya Hamka)

By : Fitrah Ali Yusuf Abdillah
http://filsafat-pemula.blogspot.co.id/
Buya Hamka
(Pemaknaan ulang konsep-konsep dalam tasawuf)

Biografi
Buya Hamka adalah nama pamor dari seorang pemikir Islam  bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, dilahirkan pada 16 Februari 1908 di Kampung Molek, Maninjau, Sumatra Barat dalam keluarga yang sudah terbiasa dengan tradisi pendidikan dan agama Islam. Buya adalah panggilan akrab khas Melayu, sedangkan Hamka adalah nama singkatnya. Ayahnya bernama Syaikh Abdul Karim Amrullah alias Haji Rasul, yaitu seorang ulama yang juga terkenal di zamannya, khususnya Minangkabau. Dia tinggal daerah dekat Sungai Batang dan Danau Maninjau. Maninjau dikenal sebagai tempat lahir banyak tokoh-tokoh  berpengaruh, diantaranya adalah Mohammad Natsir, A.R. Sutan Mansyur, Rasuna Said, dll. Rupanya, kelak bocah kecil yang dididik keras oleh ayahnya ini juga menjadi tokoh Islam  berpengaruh di negeri Indonesia.

Epistemologi Ketuhanan Filsafat Abad Pertengahan

By : Fitrah Ali Yusuf Abdillah
http://filsafat-pemula.blogspot.co.id/


Epistemologi Ketuhanan

1.Tuhan sebagai obyek kajian metafisika
2.Apabila manifestasi lahiriah dari semesta maupun jiwa dapat ditangkap indera, maka hal yang sama tidak berlaku bagi realitas ketuhanan
3. Epistemologi ketuhanan berurusan dengan pembuktian kebenaran adanya Tuhan yang didasarkan pada penalaran manusia
4. beberapa macam pembuktian filosofik yang berusaha membukakan jalan-jalan menuju Tuhan; yaitu pembuktian ontologi, kosmologi, teleologi, moral, Henelogical argument

Ontologis
Anselmus Abad pertengahan------> titik tolak argumen Anselmus yang Maha Besar (yang Maha Tinggi) dari segala sesuatu yang dapat dipikirkan itu mustahil hanya terdapat di dalam alam pikiran saja.Jadi tidak boleh tidak yang Maha Besar dan Maha Tinggi itu harus ada pula di dalam kenyataan.
Kosmologis
1.    menolak argumen ontologi Anselmus
2.    argumen kosmologi
3.    argumen ini mengatakan bahwa pembuktian ini pada dasarnya diperoleh mlalui observasi langsung terhadap alam semesta. Pembuktian ini sangat beragam, baik segi pendekatan maupun data-data yang diolah. Tetapi yang jelas pembuktian ini berangkat dari problematika yang terjadi di alam semesta, baik keteraturan, kejadian, peristiwa yang berlangsung di alam, sesungguhnya bukanlah terjadi secara kebetulan, tetapi ada yang mengatur. Pada akhirnya argumen ini sampai pada kesimpulan puncak bahwa yang mengatur itu adalah Tuhan Yang Maha pengatur.
4.    pertama kali dicetuskan oleh Plato
5.    Pembuktian Aristoteles secara Kosmologis tentang adanya Tuhan, sebagaimana dalam karyanya Metaphysics adalah bahwa Tuhan dipandang sebagai penggerak pertama. Teori ini pada dasarnya berpangkal dari pemikirannya mengenai Hylemorphism, yaitu  materi (hyle) dan  bentuk (Morphe).

Teleologi
1.Pembuktian ini pada dasarnya berangkat dari kenyataan tentang adanya aturan-aturan yang terdapat dalam alam semesta yang tertib, rapi dan bertujuan. Dengan demikian, secara sederhana, pembuktian ini beranggapan adalah:
1.    Serba teraturnya alam memiliki tujuan
2.    Serba teraturnya dan keharmonisan alam ini tidaklah oleh kemampuan alam itu sendiri
3.    Di balik alam ini ada sebab yang maha bijak
2.dengan memperhatikan setiap susunan alam semesta yang sangat tertib dan bertujuan dapat kita pastikan bahwa terdapat suatu zat yang Maha pengatur dan Pemelihara, sekaligus menjadi tempat tujuan dari alam semesta
3. Bukti teologis ini dianggap oleh para teolog maupun filosof sebagai bukti yang cukup kuat diantara bukti-bukti klasik lainnya

Henological Argument
Thomas Aquinas
1.    kritikan Thomas Aquinas terhadap gagasan Santo Anselmus
2.    Thomas Aquinas tidak menerima bahwa hanya dari pengertian tentang ada, yang Maha Tinggi atau dari yang Tertinggi yang dapat dipikirkan
3.    Kritik Thomas Aquinas terhadap pembuktian ontologis Anselmus meliputi tiga hal :
a. menyanggah ekuivalensi antara konsep tentang Allah yang tertinggi yang dapat dipikirkan: ”Barangkali orang yang mendengar kata Tuhan, dia sama sekali tidak membayangkan suatu ada yang sedemikian sehingga yang lebih besar dari pada itu tidak dapat dibayangkan lagi”.
b. Akhirnya, jawaban yang menjadi klasik dan seperti yang pertama menyanggah Anselmus. Marilah kita setujui bahwa Tuhan dipahami sebagai yang tertinggi yang dapat dipikirkan. Pertama-tama harauslah dibuktikan bahwa obyek yang demikian itu yang lebih besar daripada itu tak mungkin dapat dibayangkan
Thomas Aquinas
Keberadaan Tuhan itu 5 :
1.    argumen gerak. Argumen ini diangkat dari sifat alam dan segala sesuatu yang ada di dalamnya yang selalu bergerak. Setiap yang bergerak pasti digerakkan oleh  sesuatu yang lain. Sebab tidak mungkin suatu potensialitas bergerak keaktualitas tanpa ada penyebabnya; dan penyebab itu tidak mungkin ada pada dirinya sendiri. Kemudian, timbul persoalan bila demikian berarti penggerak itupun memerlukan penggerak di luar dirinya. Akhirnya akan terdapat penggerak berangkai yang tidak terbatas, yang konsekwensinya berarti tidak ada penggerak. Menjawab persoalan ini Aquinas mengatakan bahwa justru karena itulah maka harus ada penggerak pertama, yaitu penggerak yang tidak digerakkan oleh yang lain, itulah Tuhan. Kesimpulan ini nampaknya sama persis dengan yang dikemukakan oleh Aristoteles
2.    argumen sebab yang mencukupi. Di dunia ini tidak ada sesuatu yang mempunyai sebab pada dirinya sendiri. Karena bila demikian ia mesti menjadi lebih dulu dari dirinya. Sedangkan itu tidak mungkin. Dalam kenyataannya yang adalah adalah rangkaian sebab dan musabab. Seluruh sebab berurutan secara teratur : Sebab pertama menghasilkan musabab, dan musabab ini menghasilkan musabab yang lain, dan seterusnya. Membuang sebab sama dengan membuang musabab. Artinya, menurut Aquinas bila tidak ada sebab pertama tentu tidak akan ada rangkaian sebab tersebut, dan itu berarti tidak akan ada apa-apa. Sedangkan kenyataannya; “apa-apa itu ada”. Berarti memang ada sebab pertama, ialah Tuhan.
3.    argumen kemungkinan dan keharusan. Adanya alam ini bersifat mungkin, dan segala sesuatu yang ada di dalamnya juga bersifat mungkin ada dan mungkin tidak ada. Kesimpulan itu diambil dari kenyataan bahwa alam dan isinya ini dimulai dari tisdak ada, lalu muncul, berkembang, rusak dan menghilang. Konsekwensinya alam ini tidak mungkin selalu ada, karena ada dan tidak ada tidak mungkin menjadi sifat sesuatu sekaligus dalam waktu yang sama. Kenyataannya alam dan isinya itu ada, Berarti harus ada sesuatu yang ada, karena tidak mungkin muncul yang ada itu apabila ada pertama tidak ada. Ada pertama itu harus ada karena alam dan isinya itu kenyataannya ada. Yang ada pertama itu Dialah Tuhan
4.    argumen tingkatan. Isi alam ini memiliki tingkatan, dalam hal keindahan, kebaikan, dan sebagainya. Misalnya ada yang indah, lebih indah, dan terindah. Tinggi, lebih tinggi, dan tertinggi atau maha tinggi. Tingkatan tertinggi menjadi sebab adanya tindakan di bawahnya. Begitu juga tentang ada. Tuhan memiliki sifat ada yang tertinggi. “Ada” yang ada di bawahnya disebabkan oleh ada yang tertinggi tersebut. 
5.    argumen keteraturan alam. Isi alam dari jenis yang tidak berakal, kenyataannya dapat bergerak menuju tujuan tertentu secara teratur, dan pada umumnya berhasil mencapai tujuannya. Padahal mereka itu tidak mempunyai pengetahuan  tentang tujuan tersebut. Berarti ada sesuatu di luar dirinya yang mengatur itu semua. Karena sesuatu yang tidak berakal tidak mungkin dapat mencapai tujuan, tanpa ada yang mengaturnya. Sesuatu yang mengatur alam dan isinya itu harus ada, harus berakal, dan harus berpengetahuan. Itulah Tuhan

Makna Tasawuf Dalam Janturan Wayang Kulit Purwa

By : Fitrah Ali Yusuf Abdillah
                                                      
http://filsafat-pemula.blogspot.co.id/
              
                                                                               BAB 1

                                                                      PENDAHULUAN


1.    Latar Belakang

Seni Wayang kulit merupakan salah satu kesenian yang berasal dari tanah Jawa yang erat hubungannya dengan tradisi lokal pada masanya.Khususnya di Cirebon, wayang selain merupakan seni hiburan, juga merupakan media dakwah para wali untuk menyebarkan agama Islam di tanah jawa ini.

Hingga saat ini, seni wayang kulit tetap menunjukan eksistensinya walaupun memang semakin sedikit sekali peminat dan penerusnya akibat pergeseran zaman.Walaupun begitu, masyarakat Desa Mertasinga tetap dan masih melestarikan budaya ini guna menunjukan jati diri sebagai masyarakat yang cinta akan budaya.Seni wayang kulit pun menjadi salah satu seni yang tetap dilestarikan hingga saat ini oleh masyarakat desa Mertasinga selain sebagai hiburan, juga sebagai pemererat hubungan antar sesama.

Munculnya seni Wayang Kulit di tanah Jawa ini tidak bisa dilepaskan dari salah satu penyebarnya, yaitu Sunan Kalijaga yang mendapat gelar Sunan Panggung yang mana beliau menggunakan Wayang Kulit sebagai media dakwahnya dalam menyebarkan agama Islam.Selain itu, dalam Seni Wayang Kulit pun terdapat makna tasawuf yang dibawa oleh Sunan Kalijaga dalam rangka memasukkan ajaran Islam kedalam Seni itu.

    Dari itulah, tema yang akan dibahas kini, mengenai “Makna Tasawuf dalam Seni Wayang Kulit (Janturan) di Cirebon (studi kasus pagelaran Wayang Kulit di Desa Mertasinga, Cirebon)”




2.    Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka identifikasi masalah dapat dirumuskan sebagai berikut :

1.    Apa itu Jantaran dalam Seni Wayang Kulit ?

2.    Apa saja klasifikasi Jantaran dalam Seni Wayang Kulit ?

3.    Apa makna tasawuf yang terkandung didalamnya?



3.    Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian sebagai berikut :

1.    Untuk mengetahui sejarah Sunan Kalijaga sebagai penyebar agama Islam yang menggunakan wayang kulit sebagai media dakwahnya

2.    Untuk mengetahui kandungan tasawuf didalam Seni Wayang Kulit



4.    Manfaat Penelitian

     Agar bisa memahami lebih dalam, bahwa Islam masuk ke tanah Jawa selain yang kita ketahui melalui jalur perdagangan dan pernikahan, juga corak tasawuf telah mewarnai perkembangan Islam khususnya ditanah Jawa melalui Seni Wayang Kulit.


                                              BAB II

                                       PEMBAHASAN


A.    Sejarah Pewayangan Cirebon


a.    Sunan Kalijaga

Didalam naskah Babad Cirebon, tertulis bahwa Sunan Kalijaga merupakan tokoh pencetus pertama pembuatan wayang kulit Cirebon, Pangeran Kajoran merupakan tokoh pertama yang mereproduksi wayang kulit Cirebon, kemudian Sunan Bonang merupakan tokoh pertama yang mengubah aransemen gamelan wayang Cirebon, Sunan Gunungjati merupakan tokoh yang bertanggung jawab atas dibuatnya wayang kulit dan dipergelarkannya pergelaran wayang kulit Cirebon.

Sunan Kalijaga menurut versi Bapak Dalang Teja, dimulai dari seorang sultan dari Mesir bernama Syarif Abdullah memiliki seorang bayi laki-laki.ketika Sunan Kalijaga masih bayi ini ibunya wafat, kemudian Sultan Syarif Abdullah melihat kepada jabang bayi Sunan Kalijaga ini merupakan pertanda yang buruk.Akhirnya, bayi itu dimasukkan kedalam peti dan dibuang kelautan.Kelak kemudian jabang bayi ini ditemukan oleh nelayan di laut di daerah Tuban Jawa Timur.Dan ketika ditemukan bayi ini, kemudian dilaporkan kepada Tumenggung Wilatikta dan kemudian diangkat menjadi anaknya

Menurut Versi Dalang Teja, Dikisahkan bahwa Sunan kalijaga bertemu dengan shangyang kontea atau yudhistira dimana shangyang kontea ini tidak bisa wafat (mati) dikarenakan jimat yang ada pada kepalanya yakni “jimat layang kalimu syada”. Ketika Sunan kali jaga bertemu shangyang kontea ini, shangyang kontea ini berbentuk patung batu yang besar, Sunan Kalijaga tidak menyadari bahwa patung itu hidup.Kemudian Sunan Kalijaga memegang jimat itu lalu beliau pingsan.Dalam pingsannya itu, beliau bermimpi mendapatkan ilmu dari Allah tentang kehidupan sebelumnya yaitu cerita para wayang. Kemudian Shangyang Kontea ini menghentikan tapanya, kemudian barulah ada tanya jawab antara Sunan Kalijaga dengan Shangyang Kontea.Shangyang Kontea ini berasal dari India, Shangyang Kontea melakukan perjalanan ke tanah Jawa demi bertemu dengan Raden Syahid yakni Sunan Kalijaga.Shangyang Kontea memiliki Jimat itu yang membuat dia tidak bisa wafat, kemudian Shangyang Kontea diberi tahu oleh adiknya yakni Batara Kresna untuk melakukan perjalanan ke Pulau Jawa dan bertemu dengan Raden Said di Pulau Panjang(Pulau Jawa).Sebenarnya niat Sunan kalijaga dalam perjalanan ingin berguru ke Sunan Gunung jati di Cirebon.Kemudian Sunan Kalijaga menyuruh memberikan jimat itu Sunan GunungJati dan kemudian Shangyang kontea dibai’at syahadat yang akhirnya wafat.

Peranan Sunan Kalijaga sebagai kreator untuk visual dan seni pergelaran wayang kulit Cirebon.Semua dalang di Cirebon hampir sepakat bahwa pencipta seni wayang kulit adalah Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga biasa disebut Sunan Panggung seperti yang tercatat dalam Tetekon Dalang Cerbon.Keberadaan Sunan Kalijaga dalam pengembangan kesenian wayang di Cirebon memang tidak dapat disangkal lagi.Tradisi lisan maupun keberaksaraan mencatat keberadaan Sunan Kalijaga di Cirebon sejak masa pemerintahan Sunan Gunungjati sampai masa pemerintahan Panembahan Ratu I (1568-1649).Didalam Babad Cirebon, diceritakan bahwa kedatangan Sunan Kalijaga di Cirebon pada awalnya untuk mendalami ilmu tasawuf kepada Sunan Gunungjati.Nyatanya kemudian Sunan Kalijaga pun berhasil mengembangkan talentanya dibidang kesenian, khususnya wayang kulit.Bahkan kesenian khususnya wayang kulit merupakan media andalan yang digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk menyebarkan agama Islam.Menurut Dalang Teja, Sunan Kalijaga mengartikan dalam menyebarkan agama Islam melalui seni dengan cara memasukkan makna tasawuf kedalamnya seperti :

1.    Wayang untuk mengajarkan Syariat

2.    Berokan atau Barongan untuk mengajarkan ilmu thariqat

3.    Topeng untuk mengajarkan ilmu hakikat

4.    Ronggeng atau tayuban untuk mengajarkan ilmu ma’rifat.


b.    Janturan Wayang Cirebon


Dalam Seni Wayang, terdapat istilah bernama Janturan.Janturan adalah barisan wayang di atas panggung, yang ditancapkan di atas batang pisang, baik sebelah kiri atau pun sebelah kanan. Setiap susunan janturan, baik tengen(kanan) maupun kiwa(kiri) memiliki klasifikasi yang sama.Janturan dimulai dari ukuran wayang yang paling besar hingga keukuran paling kecil.Letak kiwa(kiri) atau tengen(kanan) tidak menunjukan klasifikasi baik buruknya karakter wayang, tetapi merupakan tahapan martabat keimanan yang tercermin dalam ajaran tasawuf cirebon.Bentuk janturan model Cirebon ini mempertentangkan antara teori penciptaan(teori kreasi) dan teori pancaran(teori emanasi).Artinya mengakui adanya kedua teori tersebut.


B.    Makna Tasawuf dalam Janturan Wayang

Urutan pemaknaan Janturan wayang Cirebon berdasarkan teori tasawuf yang terdapat dalam Martabat Pitu, yang dinukil dari kitab Babon Paterkatan yang ditulis oleh Pangeran Muhammad Arifuddin Kusuma Bratawirja dari Kaprabonan Cirebon.Berikut pemaknaannya :

1.    Kemangmang

Menurut kepercayaan orang Cirebon, tokoh Kemangmang adalah sejenis hantu yang hanya memiliki kepala berambut api yang menyala-nyala.Kemangmang sering menakut nakuti orang ketika dipinggir sungai, karena kemangmang tidak memiliki tubuh maka apabila ia menakut-nakuti orang dia akan selalu bertanya malang (melintang) atau mujur (lurus)?Apabila orang yang ditakut-takuti menjawab “mujur”, maka ia akan selamat karena akan keluar lagi dari hantu kepala api itu, akan tetapi jika menjawab “malang” maka tidak akan selamat.

Kemangmang merupakan simbol dari Api, matahari atau sejenisnya.Ki dalang Jumar menggambarkan Dzat Nurullah yang pertamakali muncul dalam alam awang-uwung dengan Kemangmang.Menurut kitab babon petarekatan, Dzat Nurullah berkehendak menampakkan tajalli-nya pada martabat Ahadiyah, pada tataran ini tidak ada yang ada kecuali Dzat Nurullah.

Pada martabat Ahadiyah ini Allah menyaksikan dirinya sendiri.Syahadat pada martabat Ahadiyah ini disebut sebagai syahadat “mu’tawilah”yang berisi”(belum ada langit bumi dan sejenisnya semua itu sudah ada Tuhan Yang Maha Kuasa, berdiri sendiri, satu dzatnya, satu sifatnya).Selain merupakan simbol Nurullah, Kemangmang juga simbol dari api atau Shanghyang Arka(Matahari).Bentuk Kemangmang merupakan susunan dari lajur-lajur lidah api.Kemangmang memiliki wajah berbentuk kala atau raksasa.Menurut Dalang Teja, Kemangmang di Pewayangan Cirebon memiliki bentuk yang sama.


2.    Manuk Beri

Manuk Beri adalah sesosok burung Garuda.Setiap dalang memiliki jenis Manuk Beri yang berbeda.Tokoh manuk Beri kadang digunakan untuk tokoh Jatayu atau terkadang untuk lakon Ramayana.

Manuk berasal dari akronim manuksma atau menjelma, sedangkan beri berarti bersih ing diri atau suci.Gambaran ini menunjukan bahwa ada makhluk ciptaan Allah, yang tidak memiliki nafsu dan senantiasa patuh pada perintah Allah juga tidak pernah melanggar larangan Allah.Mahluk tersebut biasa kita sebut Malaikat.Jadi mengapa Manuk Beri diposisikan pada Janturan Keduaterluar setelah Kemangmang, karena Manuk Beri adalah simbol dari Malaikat, sedangkan Kemangmang simbol dari jin(iblis) yang diciptakan terlebih dahulu.

Dalam ajaran Martabat Pitu, Manuk Beri merupakan simbol Nur Muhammad yang dipancarkan dari Nurullah atau emanasi dari Nurullah, pada martabat Wahdah.Setelah tercipta Nur Muhammad kemudian Nur muhammad melihat sekelilingnya, sebelum Nur Muhammad melihat Nurullah , dia merasa menjadi satu-satunya realitas yang ada pada saat itu (ta’ayyun awal). Namun atas kehendak Nurullah maka Nur muhammad dapat melihat Nurullah.Maka gemetarlah seluruh tubuh Nur Muhammad, kemudian memancarkan keringat yang berupa cahaya.Kemudian dari cahaya yang muncul itu, terciptalah arwah seluruh makhluk yang akan diciptakan Allah.Kemudian Roh Muhammad yang telah tercipta menjadi roh-roh para makhluk tersebut mengucapkan syahadat.Syahadat itu disebut Syahadat Mutawasith kemudian diucapkan oleh seluruh roh pada martabat wahidiyah.

Janturan wayang Kemangmang dan Manuk Beri merupakan lakon wayang individu, yakni perseorangan berbeda dengan janturan wayang yang lain.


3.    Buta Sewu

Menurut Versi pedalangan kasultanan kanoman, Juga menurut Dalang Teja, Buta Sewu melambangkan Nabi Adam atau mahluk yang diciptakan Allah setelah jin iblis dan malaikat.Adam(manusia) merupakan makhluk ketiga yang diciptakan Allah.Maka dari itu, Buta Sewu sebagai lambang Adam diletakkan pada posisi Janturan ketiga.Buta sewu digambarkan sebagai sosok raksasa yang memiliki satu tubuh bertangan empat, berkaki dua dan berkepala seribu.Bentuk ini menggambarkan umat manusia yang jumlahnya jutaan, tetapi berasal dari satu orang, yaitu Adam.Masyarakat Cirebon mengakui adanya teori kreasi(teori penciptaan).Pada saat Adam diturunkan kedunia sampai dengan wahyu kenabian diturunkan kepada Rasulullah Muhammad, mulailah diberlakukan Syahadat Mutaakhiran.

Buta Sewu dapat disimbolkan dengan Martabat Alam Arwah.Kedudukan roh-roh makhluk yang akan diciptakan Allah sebelum menyatu dengan jasadnya.Karena ketika roh adam diturunkan, roh belum masuk ke jasad Adam, roh mengelilingi Adam yang masih berbentuk tembikar (tanah liat) barulah atas perintah Allah, roh itupun masuk ke dalam jasad Adam.


4.    Denawa

Menurut Dalang Teja, sebenarnya Janturan Denawa ini sama dengan Buta Sewu.Urutan Janturan yang ke empat dari kanan paling luar adalah kelompok Denawa.Menurut versi Ki Dalang Suwarta, setelah Buta Sewu Janturan Denawa dimulai dengan Kalagede(Buta Kala bermahkota) kemudian disusul secara berurutan adalah Buta Ula, Buta Yaksa, Buta Plasta(Prahasta), Buta Banteng, dan Kala Ngore.Alasan Kalagede diletakkan setelah Buta Sewu adalah secara teknis tinggi Kalagede agak menyamai tinggi Buta Sewu, namun alasan filosofis adalah setelah terciptanya Adam(disimbolkan dengan Buta Sewu)barulah sejarah zaman (kala) kehidupan manusia dimulai.Menurut Dalang Teja, Gambaran Denawa ini divisualisasikan oleh Iblis yang sudah dalam keadaan di laknat oleh Allah.

Dualisme perilaku dan keyakinan yang digambarkan dalam bentuk visual denawa melambangkan suatu ketidakpastian.Ketidakpastian itu muncul karena kehendak Allah terhadap ciptaannya belum direalisasikan.Ketidakpastian ini dalam faham Martabat Pitu disebut alam Mitsal, yakni suatu keadaan manakala roh sudah ditiupkan kejasad(janin) namun ketentuan Allah atau takdirnya belum diberikan.Ketentuan tersebut berupa Bagja Cilaka, umur, jenis kelamin juga belum ditentukan pada Martabat Alam Mitsal.


5.    Ponggawa

Ponggawa merupakan tokoh wayang berbadan tegap, kokoh, dan besar. Ponggawa melambangkan alam ajsam, alam ajsam adalah kedudukan manakala bentuk fisik manusia telah tercipta dengan sempurna tetapi kesempurnaan fisik itu belum diimbangi dengan kesempurnaan ilmu dan iman kepada Allah.Dalang Teja menggambarkan tokoh Ponggawa ini sebagai tokoh yang berbadan besar, kuat.Akan tetapi masih belum sempurna Pemikirannya.Jadi hanya mengandalkan kekuatan saja.Contoh lakon wayang yang digambarkan disini seperti Wayang Bima, seperti diketahui Bima merupakan figur tokoh wayang yang Kuat akan tetapi belum cerdas pemikirannya.Berbeda dengan Janturan Satria yang akan dibahas Selanjutnya.

Menurut Dalang Teja, Sebenarnya ada masa peralihan antara Januran Ponggawa dengan Satria, yakni Janturan Wanara.Wanara yang merupakan bahasa kawi berarti sejenis Kera.Lakon wayang yang dicontohkan seperti Hanoman.Bila dikaitkan dengan teori penciptaan manusia seperti Teori Darwin, masa peralihan manusia menjadi manusia yang sempurna adalah melalui binatang kera.


6.    Satria

Satria berasal dari kata sa yang berarti menjaga, tri berarti tiga dan a  singkatan dari agama, jadi makna satria adalah menjaga tiga rukun agama yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Kata Iman diambil dari sebuah simbol anatomi tubuh dari satria yaitu dari wajah, badan hingga kaki yang semuanya menggambarkan perilaku baik. Sedangkan Islam adalah pasrah berserah diri kepada Allah. Seorang satria akan mempertaruhkan dan menyerahkan jiwa raganya untuk Allah berupa amar ma’ruf nahi munkar. Bentuk Ihsan yang tergambar dari satria adalah mengemban tugas dan memberikan kasih sayang kepada seluruh alam ini.

Figur satria dapat disepadankan dengan figur Insan Kamil (alam Insan Kamil). Insan Kamil adalah manusia sempurna yaitu manusia manusia yang sudah memiliki kesempurnaan lahiriyah dan batiniyah. Insan kamil adalah manusia yang sudah dapat memenuhi kebutuhan material dan spiritual.


7.    Putren

Tokoh pewayangan yang masuk ke dalam janturan wayang putren adalah Dewi Sumbadra, Dewi Srikandi, Dewi Arimbi, Dewi Kunti, dan sebagainya. Menurut Arti umum janturan wayang putri adalah bahwa yang disebut putri, asal dari kata pu adalah rapu (tua), dan tri itu tiga. Jadi kategori tua itu ada tiga macam, yaitu Tua Sepah, Tua Sepih, dan Tua Sepuh.

Tua Sepah adalah orang yang sudah berusia lanjut tapi tidak berisi atau kosong ilmunya seperti tebu yang sudah diambil zat gulanya tinggal sepah (ampas) nya.

Tua Sepih adalah orang yang sudah berusia lanjut tapi tidak dapat memberikan manfaat ilmunya, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.

Tua Sepuh adalah orang yang sudah lanjut usia makin bercahaya karena karomah ilmunya yang bermanfaat bagi orang lain.

 Menurut arti khusus putri mengandung arti juga yaitu put ialah puput (putus), ri itu diri, jadi putri artinya putus ing diri yaitu lepasnya jasmani manusia yang dinamakan mati. Yang dimaksud mati bukanlah mati dibungkus kain putih, tapi “antal mautu qobla mautu” artinya ‘matilah kamu sebelum mati’. Adapun mati di sini adalah nafsunya, yaitu nafsu mencari Tuhan karena sudah ma’rifatullah sehingga tidak nafsu lagi untuk mencari-Nya. Bukan berarti mamatikan nafsu lawammah, amarah, sufiyyah, dan mutmainnah yang berfungsi untuk kemaslahatan syari’at hidup manusia. Karena apabila empat nafsu tadi timatikan akan bertentangan dengan syari’at rukun Islam yaitu zakat dan Haji. Bukannya zakat dan Haji membutuhkan materi agar dapat terlaksana, dan untuk memperoleh materi tersebut dibutuhkan nafsu agar semangat untuk bekerja. Sebenarnya agama Islam menyuruh kita agar menjadi orang kaya lahir dan batin agar bahagia hidup dunia dan akhiratnya, bukan hanya satu sisi tapi kedua-duanya misalnya hanya kaya lahir maka tujuan hidup di alam baqa tidak bakal diketemukan karena terlena dengan kenikmatan lahiriyahnya saja, begitupun sebaliknya banyak orang mengasumsikan bahwa menuntut ilmu hakikat Islam itu nanti malas bekerja dan tidak butuh dunia, tapi yang dua demikian itu keliru. Karena hakekat Islam itu untuk mencapai tujuan agama yaitu kebahagiaan akherat (surga).

Jadi orang yag sudah tahu hakikat Islam harus menjalankan keduanya yaitu Syari’at dan hakikatnya karena ilmu hakikat itu perlu pembuktian wujud agar dapat dirasakan dalam lahiriyah hidupnya, dan untuk merasakan hasil ilmu itu ada di syari’at.

Dalam ajaran tasawuf Cirebon Putri merupakan simbol dari Insan Kamil, kedudukanya sama dengan wayang satria, karena putren merupakan bentuk kesempurnaan dari sebuah ciptaan, maka posisi atau kedudukan dalam martabat pitu sama dengan posisi satria.Namun bagi yang meyakini martabat sanga, putren juga termasuk dalam martbat Insan Kamil yaitu martabat ke delapan.Adapun satria termasuk martabat tujuh.Menurut pangeran Suleman Sulendra Ningrat menejelaskan bahwa martabat sanga terdiri dari :

a.    Martabat Ahadiyah

b.    Martabat Wahdah

c.    Martabat Wahiah

d.    Martabat Alam Arwah

e.    Martabat Mitsal

f.    Martabat Alam Ajsam

g.    Martabat Alam Insan

h.    Martabat Alam Insan Kamil

i.    Martabat Alam Kamil Mukamil

Jika mengaju pada martabat sanga, kelompok putren dapat diklasifikasikan ke dalam martabat Insan Kamil, hal ini karena gambaran visual putren dianggap lebih halus dan lembut tindakannya, lemah lembut tutur katanya dan penampilannya merupakan gambaran keindahan akhlaq.

8.    Jabang

Jabang dalam bahasa Cirebon berarti bayi atau anak kecil.Wayang Jabang merupakan cerminan dari kebersihan diri dan kebersihan manusia.Suci bersih tanpa dosa.Wayang Jabang merupakan simbol spiritual kesempurnaan diri secara batiniah.Dan menurut Pangeran Suleman Sulendiningrat Jabang dapat disamakan dengan Martabat Kamil Mukamil(sampurnaning sampurna) yakni kembali ke fitrahnya yaitu Sempurna.Jadi setiap manusia akan kembali pada Tuhannya dengan sempurna.

9.    Gunungan

Janturan Gunungan melambangkan ke-Esaan Tuhan karna Gunung berasal dari kata Agung dan Gumunung (Maha Luhur).Janturan Gunungan diletakkan bersebelahan dengan satria atau putren atau jabang karena untuk menunjukan hubungan manusia dengan Tuhan.atau juga dapat dimaknai kembalinya manusia harus menghadap Allah SWT, dalam ajaran tasawuf konsep ini disebut wihdatul wujud atau penyatuan dengan Allah”manunggal ing kawula gusti”.


C.     Kesimpulan

           Dari apa yang telah dijelaskan diatas, dapat kita simpulkan bahwa masuknya Islam ke tanah Jawa ini bukan hanya melalui jalur perdagangan ataupun pernikahan saja,  melainkan juga Sunan Kalijaga sebagai pembawa Seni Wayang di Cirebon telah menyisipkan makna ajaran tasawuf didalamnya, khususnya dalam Janturan wayang, terdapat sebuah makna penciptaan makhluk dimuka bumi ini.Diawali dari Iblis kemudian Adam, dan kemudian Adam yang sempurna, hingga kembali bersatu dengan Allah.Dengan kata lain bahwa ajaran tentang tasawuf melekat bukan hanya pada disipli ilmu itu sendiri, melainkan juga pada sebuah Seni.Dan khususnya di Desa Mertasinga, ajaran tasawuf ini masih tetap dipelajari oleh para penganut Tarekat yang diajarkan oleh para mursyidnya kepada pengikutnya.Seni Wayang Kulit yang diadakan setiap ada event besar, bukan hanya menjadi sebuah ritual ataupun hiburan semata.Melainkan untuk mendalami makna yang terkandung didalamnya.

Tag : ,

Teologi Islam Transformatif (Kontemporer)

By : Fitrah Ali Yusuf Abdillah
http://filsafat-pemula.blogspot.co.id/
TEOLOGI ISLAM TRANSFORMATIF

1.    Apa yang anda fahami tantang istilah Teologi Islam Transformatif? Dan bagaimana pendapat anda mengenai Islam sebagai agama yang melakukan Transformasi di Masyarakatnya?
Jawab:
a. Teologi Islam Transformatif menurut saya pribadi ialah sebuah proses pentransformasian baik itu sistem aqidah, syari’ah, sejarah, yang ada pada masyarakat guna menyelesaikan problem Teologi yang ada padanya.Transformasi ini lebih mengutamakan aspek kemanusiaan, dimana agama terlibat dan menyelesaikan masalah-masalah sosial yang sesuai dengan perkembangan zaman.
b. Pendapat saya mengenai Islam sebagai agama yang melakukan Transformasi di Masyarakatnya ialah, jika kita kembali pada saat Islam turun di Mekkah, kita melihat bahwa nabi Muhammad saw, mampu mentransformasikan baik itu sistem kepercayaan, ketidak adilan yang menindas kaum lemah, mendiskriminasi kaum wanita, dan lain-lain.Islam lahir sebagai penyelamat itu semua.Nabi Muhammad membawa Islam sebagai alat pentransformasian dari zaman jahiliah(kebodohan) menuju zaman yang terang benderang(beradab).
2.    Coba jelaskan secara lengkap berkenaan dengan teori Kuntowijoyo yaitu Ilmu Sosial Profetik dan teori Muslim Abdurrahman yaitu Teologi Islam Transformatif. Berikan masing-masing dua contoh dari penggunaan kedua teori diatas.
Jawab:
a.    Teori Kuntowijoyo
Ilmu Sosial Profetik menurut Kuntowijoyo ialah ilmu sosial yang mendasarkan kandungannya pada nilai humanisasi, liberasi dan transendensi. Alasannya, Islam sangat berkepentingan pada realitas sosial, bukan hanya untuk dipahami, tetapi juga untuk diubah dan dikendalikan. Oleh karena itu kelahiran Ilmu Sosial Profetik, juga didasarkan pada perubahan paradigma, yakni; sebuah gerakan yang mengajak umat Islam untuk menjadikan Al Qur’an sebagai teori-teori ilmu, agar dapat lebih bersifat aplikatif.
Contohnya : kita lihat pada Q.S. Ali Imron 110, dalam ayat itu menyebutkan bahwa kita dilahirkan untuk kemanusiaan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar.Kita lihat pada ayat ini untuk selalu saling mengingatkan dari hal-hal buruk.Ketidak adilan bukanlah sifat manusiawi, kasus korupsi, penindasan yang terjadi pada saat ini, agama harus membantu dengan memobilisasi massa agar terlibat dalam proses pemecahan masalah umat tersebut dan memberi hukum tegas terhadap orang yang menghalangi proses pemenuhan kebutuhan umum masyarakat dengan menimbun bahan makanan.
b.    Teori Muslim Abdurrahman
Islam transformatif menurut Muslim Abdurrahman  merupakan teologi praksis sosial, di mana agama diterjemahkan dalam keberpihakan kepada kaum miskin.Juga dia melihat proses sosial dari dimensi Islam yang disintesakan dengan ilmu-ilmu sosial lain, sekalipun ditulis oleh ilmuwan sosial Barat. Dalam mengatasi permasalahan proses sosial ia menggabungkan metode analisis sosial dengan teks (wahyu), jadi permasalahan sosial dianalisis dengan analisis sosial dan penafsiran teks, yang nantinya muncul makna baru yang digunakan sebagai solusinya.

3.    Jelaskan teori double movement Fazlur Rahman dan teori Batas Syahrur secara singkat beserta contohnya. Dan sertakan pendapat anda mengenai kelebihan dan kekurangan dari teori-teori tersebut
Jawab :
a.    Teori Double Movement Fazlur Rahman
Teori ini digunakan Fazlur Rahman untuk menafsirkan Al-Quran, dimana perlunya kajian terhadap sisi Historis turunnya sebuah ayat, yang kemudian diterapkan kedalam konteks kekinian.Dalam Teori ini terdapat dua gerak :
Gerak pertama merupakan tahap pemahaman arti atau makna dari suatu pernyataan dengan mengkaji ayat-ayat spesifik dalam sinaran situasi-situasi spesifikasinya, suatu kajian mengenai situasi makro dalam batasan-batasan masyarakat agama, adat istiadat, lembaga-lembaga bahkan mengenai kehidupan secara menyeluruh di Arabia pada saat turunnya Islam di kota Mekkah akan dilakukan. Jadi langkah pertama dari gerakan yang pertama adalah memahami makna al-Qur’an sebagai suatu keseluruhan disamping dala batas-batas ajaran yang khusus yang merupakan respon terhadap situasi-situasi khusus.
Gerak Kedua yakni tahap menarik nilai ideal moral pada masa kekinian, nilai Ideal moral dirumuskan kemudian dicari nilai relevansinya di masa sekarang apakah dapat memberikan konstribusi terhadap masalah?. Setelah melakukan relevansi, tahap berikutnya yang dilakukan dalam melakukan kontekstualisasi saat ini adalah mencari kemungkinan bahwa nilai ideal moral dapat dibumikan pada masyarakat.
Contoh aplikasi teori Fazlur Rahman : Contoh sederhana dari tema gerak gandanya Rahman dalam hal hak istri untuk bercerai dalam keadaan tertentu (khulup dalam analisisnya terhadapat ayat yang digunakan mayoritas ulama dalam peniadaan hak wanita ini adalah QS. Al Nisa' [IV] : 3 dan QS. Al Baqarah [II] : 28, yang menerangkan superioritas lelaki atas wanita. Pada gerak pertamanya Rahman mencoba mengangkat aspek historis ayat dengan latar belakang sosial budaya yang berlaku tentang status wanita pada waktu turunya ayat. Menurutnya masyarakat Arab ketika itu didorninasi oleh katun lelaki dan posisi katun wanita sangat lah rendah sehingga wajar saja ketika bunyi teks al-Qur'an menyesuaikan dengan kondisi zaman dan konteks turunnya ayat dan hal ini di•asakan sangat bersifat temporal. Dengan mengambil nilai yang lebih tunversal dari gerak pertamanya yaitu tentang persaniaan kedudukan antara laki-laki dan perempuan Ralunan beranjak ke gerakan kedua, Menurut Rahman, adalah sangat pelik untuk mempertahankan keadaan berdasarkan ayat-ayat tersebut bahwa masyarakat harus tetap seperti masyrakat Arab abad ke-7 M, atau masyrakat abad pertengahan pada umumnya, dia berpandangan bahwa anggapan mayoritas ulama tentang monopoli kmun laki-laki atas hak cerai sama sekali tidak dikuatkan dari al-Qur'an dan bahwa ketentuan mengenai hak cerai katun wanita adalah positif (Amal, 1992 : 90)
b.    Teori Batas Muhammad Syahrur
c.    Teori batasnya terdiri dari batas bawah (al-hadd al-adna/minimal) dan batas atas (al-hadd al-a’la/maksimal). Terdapat enam bentuk aplikatif teori batas ini dalam kajian terhadap ayat-ayat hukum, yakni:
d.    Pertama, yang hanya memiliki batas bawah. Hal ini berlaku pada perempuan yang boleh dinikahi (QS. [4]: 22-23), jenis makanan yang diharamkan (QS. [5]: 3), [6]: 145-156), hutang piutang {QS. [2]: 283-284), dan pakaian wanita (QS. [4]: 31).
e.    Kedua, yang hanya memiliki batas atas. Berlaku pada tindak pidana pencurian (QS. [5]: 38) dan pembunuhan (QS. [17]: 33, [2]: 178, [4]: 92).
f.    Ketiga, yang memiliki batas atas dan bawah sekaligus. Berlaku pada hukum waris (QS. [4]: 11-14, 176) dan poligami (QS. [4]: 3).
g.    Keempat, ketentuan batas bawah dan atas berada pada satu titik atau tidak ada alternatif lain dan tidak boleh kurang atau lebih. Berlaku pada hukum zina dengan seratus kali cambuk (QS. [24]: 2).
h.    Kelima, ketentuan yang memiliki batas bawah dan atas sekaligus, tetapi keduanya tidak boleh disentuh, jika menyentuhnya berarti telah melanggar aturan Tuhan. Berlaku pada hubungan laki-laki dan perempuan. Jika antara laki-laki dan perempuan melakukan perbuatan mendekati zina tetapi belum berzina, maka keduanya belum terjatuh pada batas-batas hudud Allah.
i.    Keenam, yang memiliki batas atas dan bawah, di mana batas atasnya bernilai positif dan tidak boleh dilampaui. Sedang batas bawahnya bernilai negatif dan boleh dilampaui. Berlaku pada hubungan kebendaan sesama manusia. Batas atas yang bernilai positif berupa riba, sementara batas bawahnya bernilai negatif berupa zakat.
j.    Keenam bentuk teori batas yang dibuat Syahrur di atas berdampak pada istinbath hukum Islam. Kita ambil contoh dari teori hudud pertama yang hanya memiliki batas bawah, yakni mengenai pakaian dan aurat wanita. Ketika menafsirkan QS. [24]: 31, “Atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita”. Menurut Syahrur aurat adalah apa yang membuat seseorang malu apabila terlihat, dan aurat tidak berkaitan dengan halal haram, baik dari dekat maupun jauh. Ia membuat contoh, “Apabila ada orang yang botak dan tidak suka orang melihat kepalanya yang botak, maka dia akan memakai rambut palsu, sebab ia menganggap botak kepalanya sebagai aurat.” Kemudian ia mengutip hadits Nabi, “Barang siapa menutupi aurat mukmin, niscaya Allah akan menutupi auratnya.” Dia berkomentar, menutupi aurat mukmin dalam hadits itu, bukan berarti meletakkan baju padanya agar tidak terlihat. Lantas ia menyimpulkan bahwa aurat berangkat dari rasa malu, yakni ketidaksukaan seseorang ketika terlihatnya sesuatu, baik dari tubuhnya maupun perilakunya. Sedang malu menurutnya relatif, berubah-ubah sesuai dengan adat istiadat, zaman, dan tempat.
k.    Maka ketika ada ayat yang menyuruh memakai jilbab dalam QS. [33]: 59, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.”
Pendapat saya pribadi mengenai kedua teori tersebut ialah, bila kita lihat dari sejak awal, proses penafsiran Al-Quran yang tiada hentinya, ini menandakan bahwa Agungnya Al-Quran.Tidak ada satupun tafsir mutlak (satu tafsir Al-Quran) yang digunakan didunia.Berkaitan dengan teori fazlur rahman, saya sangat mendukung, dimana seorang pembaca atau penafsir lebih melihat sisi ideal moralnya, seperti ayat tentang poligami, teks awal berbunyi diperbolehkan memiliki 4 istri, tapi kalimat selanjutnya berbunyi bahwa cukup satu saja, karna tidak ada manusia yang adil, ini menandakan bahwa Allah mengetahui psikologi manusia yang mana tidak dapat atau sulit berlaku adil.Disinilah letak Idela moralnya.

Peranan Dakwah Ustadz Dalam Membentuk Karakter Masyarakat

By : Fitrah Ali Yusuf Abdillah
Peranan Dan Metode Dakwah Para Ustadz
Dalam Membentuk Karakter Masyarakat Pesisir
Di Desa Dadap
Oleh: Fitrah Ali Yusuf Abdillah (Filsafat Agama/7)
Nim: 14123341224

A.    Latar Belakang
Ustadz merupakan salah satu komponen penggerak masyarakat, baik itu dalam hal keagamaan, sosial, maupun ekonomi.Khususnya di desa Dadap, peranan para ustadz ini sangatlah dominan.Seorang ustadz yang selain hanya untuk berdakwah, juga selalu memberi solusi, baik itu masalah keagamaan, sosial, maupun masalah-masalah lainnya.Ustadz sendiri merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri.Sehingga, dalam praktek dakwahnya, kerap kali seorang ustadz ini bersentuhan langsung dengan masyarakat.Terlepas dari seluruh lapisan masyarakat, baik itu nelayan, pedagang, petani, ataupun TKW/TKI yang menjadi mata pencaharian yang paling mendominasi masyarakat Dadap saat ini.Berbicara mengenai karakter, klaim masyarakat di luar masyarakat pesisir.terhadap masyarakat pesisir itu sendiri, yakni masyarakat pesisir kerap kali disebut sebagai masyarakat yang keras, keras dalam artian baik itu watak, tabiat, dan perilaku maupun tradisi keagamaannya.
Islam pesisirpun kini menjadi wacana bagi kalangan akademis.Pasalnya, Islam yang masuk menurut beberapa teori yang mengatakan bahwa melalui jalur perdagangan, dan perdagangan itu masuk melalui jalur laut, sehingga para penyebar Islam (para wali atau Syekh) tempo dulu banyak bermukim di pesisir pantai, yang kemudian menyebarkan Islam pertama kali di pesisir pantai.Sehingga kerap kali mayarakat muslim pesisir disebut dengan masyarakat muslim asli.Hal ini dikarenakan pertama kalinya Islam masuk melalui jalur laut dan bermukim di pesisir pantai.Teori lain yang mengatakan bahwa Islam masuk melalui Habaib atau Habib (yakni keturunan rasulullah muhammad saw) atau biasa kita sebut dengan teori Habib, hal ini turut mendukung bahwa pada praktiknya, para habaib ini masuk ke Indonesia, khususnya pulau jawa melalui jalur laut dan berlayar menggunakan kapal laut.Di desa Dadap khususnya, terdapat beberapa Habib (keturunan rasulullah saw) yakni seperti, Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah, Habib Keling, dan lain-lainnya.Berkenaan dengan ini, Islam yang masuk melalui jalur laut itu kemudian berkembang dalam kurun waktu tertentu melalui dakwah atau syiar yang dibawa oleh para wali atau syekh penyebar Islam saat itu, kemudian tradisi penyebaran Islam itu berkembang hingga saat ini, dan sampailah ke desa Dadap.Menurut masyarakat setempat, penyebar Islam di desa Dadap saat itu ialah Syekh Sama’un.Kemudian dari Syekh Sama’un ini menurunkan baik anak cucunya dan juga menurunkan keilmuannya.Dari keilmuannya inilah, Islam terus berkembang hingga saat ini di desa Dadap.Dan tentunya penyebaran ini tidak terlepas dari penyebarnya yakni seorang “Ustadz”.Di desa Dadap sendiri khususnya terdapat banyak Ustadz yang terus menegakkan tonggak perjuangan Islam dari masa ke masa.Juga para ustadz ini mengabdi demi tegaknya nilai-nilai Islam di desa Dadap.
Para Ustadz di desa Dadap ini, berdomisili dan bertempat tinggal di dekat Mushalla yang di jalankannya.Setidaknya, terdapat kurang lebih 25 Mushalla di desa Dadap.Mushalla ini tersebar diseluruh wilayah di desa Dadap.Dan di setiap Mushalla ini terdapat kegiatan-kegiatan keagamaan seperti Tausiah, Majlis Ta’lim, Barzanji, atau Jami’iah Waqi’ah dan lain-lain.Kembali ke permasalahan masyarakat Pesisir, anggapan bahwa seharusnya masyarakat pesisir lebih maju keagamaannya dibanding masyarakat lain, dikarenakan notabenenya para Wali menyebarkan Islam rata-rata bermula di daerah pesisir, seperti Sunan Gunung Jati, Syekh Magelung Sakti, Habib Keling, dan lain-lain.Ini seharusnya menjadikan masyarakat pesisir lebih kental mengenai tradisi keagamaannya dan Islamnya itu sendiri.Berangkat dari sinilah penelitian ini dibuat.Hal pertama adalah Bagaimana karakteristik keagamaan masyarakat pesisir Dadap? , kemudian apa peranan dan metode dakwah para Ustadz dalam membentuk karakter masyarakat pesisir Dadap?

B.    Pembahasan

Desa Dadap yang terbentang di pesisir pulau Jawa tepatnya di Kecamatan Juntinyuat berada di wilayah administrasi Kabupaten Indramayu.Berdasarkan data RKPDes Desa Dadap, mayoritas penduduknya memeluk Agama Islam.Masuknya Islam di desa Dadap ini tak terpisahkan dari salah seorang pembawanya yakni Syekh Sama’un.


                                                                              Makam Syekh Sama’un

Menurut salah satu tokoh agama setempat, yakni Kyai Robak, Syekh Sama’un ini merupakan penyebar Islam di Desa Dadap.Beliu ini merupakan asli dari Demak.Syekh Sama’un ini juga memiliki pesantren yang di bangun di pinggir pantai Laut Jawa Desa Dadap.Kini pesantren itu sudah tidak ada karena tergenang air laut akibat proses abrasi air laut.Menurut versi Kyai Robak juga, Syekh Sama’un ini menikah sebanyak sembilan kali, dan di Dadap ini merupakan istri ke- sembilannya. Syekh Sama’un juga menurunkan keturunannya baik dari sisi biologis, maupun keilmuannya.Kyai Robak-pun menurut masyarakat adalah salah satu dari keturunan Syekh Sama’un.
Dari keturunannya inilah Islam mulai menyebar luas di desa Dadap.Secara keilmuanpun, banyak dari keturunan keilmuan yang diberikan oleh Syekh Sama’un menyebarkan Islam di desa Dadap ini.Siapakah mereka?, yakni para ustadz yang ikhlas mengajarkan ilmu agama di setiap mushalla atau tajug yang mereka jalankan di desa Dadap.
Peranan para Ustadz juga semakin meluas, mengingat Ustadz itu sendiri merupakan bagian dari masyarakat dan bersentuhan langsung dengan masyarakat.Sehingga, bila terjadi suatu polemik atau permasalahan, maka para Ustadz ini memberikan solusinya masing-masing sesuai dengan pemahamannya.
Mayoritas masyarakat Dadap ini berfahamkan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah atau biasa kita sebut dengan Asy’ariah.Hal ini dikarenakan aqidah ini sangatlah cocok dengan kondisi masyarakat Dadap, dan pertama kali Islam menyebar di desa Dadap ini berfahamkan Asy’ariah Ahlussunnah wal Jama’ah.Faham ini begitu merakyat bagi masyarakat Dadap.Sebab dalam faham ini, sangat menerima tradisi-tradisi lokal dan juga kearifan lokal dibandingkan dengan faham lain yang begitu mudahnya membid’ahkan segala sesuatunya.Dan juga dikarenakan faham aswaja (ahlussunnah wal jama’ah) ini menjunjung tinggi tasammuh (toleransi), tawassuth (moderat), dan tawaazun (seimbang). Sehingga mudah diterima oleh masyarakat Dadap.
Dalam membentuk karakter masyarakat pesisir Dadap ini, setiap Ustadz memiliki metode tersendiri.Khususnya menghadapi klaim masyarakat di luar masyarakat pesisir yang mengatakan bahwa masyarakat pesisir identik dengan berwatak keras, dan lain-lain.Hal lain seperti, seharusnya keilmuan Islam di masyarakat pesisir ini seharusnya lebih maju, hal ini secara tidak langsung mengatakan bahwa, masyarakat pesisir seharusnya maju di bidang keilmuan keagamaan dan begitupun dengan akhlak.Lalu bagaimana peranan Ustadz dalam menghadapi masyarakat Dadap khusunya yang mayoritas bermata pencaharian sebagai Nelayan dan TKW/TKI.
Berikut beberapa pendapat para Ustadz mengenai permasalahan yang terjadi di Desa Dadap, dan bagaimana peranan ustadz itu dalam membentuk karakter masyarakat.Juga tanggapan para Ustadz mengenai klaim masyarakat di luar masyarakat pesisir mengenai masyarakat pesisir.



Wawancara 1
KH. Jawahir, Masjid Nurul Huda


KH. Jawahir merupakan ketua MUI di desa Dadap, beliau menjabat selama sekitar empat tahun.Dalam setiap ceramah beliau, hal pertama yang beliau singgung adalah masalah ibadah “mahdoh” seperti shalat, puasa, dan lain-lain.Menurut beliau, ada yang paling penting dari itu semua, yakni ibadah yang sifatnya sosial.Dalam konteks ini, ibadah yang kaitannya dengan Tuhan, tetapi memiliki nilai sosial kemasyarakatan seperti tolong menolong antar sesama.Beliau juga menekankan akan pentingnya pengamalan dari nilai-nilai ibadah tersebut.Diantara semua itu, menurut beliau, hal yang paling pertama dan utama ialah pendidikan akhlak atau etika.Disini beliau memasukan ajaran atau nilai-nilai tasawuf dalam Islam seperti, pentingnya akan “akhlakul karimah” atau akhlak yang baik.Beliau menyebutnya dengan istilah “Ngaji Rasa”.Menurut beliau, sebesar apapun ilmu, sedalam apapun ilmu, tidak ada gunanya bila tidak memiliki akhlak yang baik.Dalam setiap ceramahnya, beliau banyak mengutip ayat-ayat dari tafsir Al-Quran.
Lebih jauh, mengenai nilai-nilai tasawuf yang beliau terapkan terhadap masyarkat yakni mengenai “melawan hawa nafsu”.Konteks melawan hawa nafsu ini sangatlah luas.Penerapannya ada di setiap sendi kehidupan seperti, nafsu kita akan mencari materi duniawi ini, dengan hawa nafsu ini, seseorang dapat terjerumus dalam keserakahan.Dan keserakahan ini adalah pintu awal menuju sebuah kehancuran.
Dalam setiap ceramahnya yang bernilai tasawuf juga, beliau banyak mengutip dari sejarah-sejarah para sahabat nabi atau waliyullah, seperti kisah Imam Sufyan Assauri.Imam Sufyan Assauri ini merupakan salah satu dari sepuluh imam mazhab yang terkenal di dunia.Kisahnya yaitu, diceritakan bahwa ketika Imam Sufyan Assauri tinggal bersama seorang Yahudi disebuah rumah bertingkat, pada tingkat pertama ini ditempati oleh seorang yahudi itu, kemudian dilantai bawah menjadi tempat tinggal Imam Sufyan Assauri.Suatu hari, ketika seorang yahudi ini buang air kecil, air kencingnya ini meresap kebawah, hingga mengenai lantai tempat Imam Sufyan Assauri.Kemudian Imam Sufyan Assauri ini menadahkan sebuah ember atau tempat air untuk menampung air kencing orang yahudi tersebut.Hingga suatu hari seorang yahudi tersebut berkunjung kepadanya, kemudian yahudi itu bertanya pada Imam Sufyan Assauri, “air apakah itu?”, Imam Sufyan Assauri menjawab “itu hanya sebuah air yang bocor saja”.Hari demi hari berlanjut, seorang yahudi ini kemudian mulai penasaran, mengapa selalu ada air yang menetes dari atap ruang Imam Sufyan Assauri.Singkat cetita, dikarenakan Imam Sufyan Assauri sudah kehabisan akal untuk menjawab yang sebenarnya, guna menghindari tersinggungnya seorang yahudi tersebut, dan juga untuk menjaga ucapannya agar tidak berbuat “ghibah”.kemudian beliau barulah jujur untuk mengatakan hal yang sebenarnya, bahwa itu adalah air kencing dari yahudi tersebut.Dari sinilah, menurut beliau (KH. Jawahir), dapat kita ambil pelajaran, bahwa pentingnya kita akan menjaga perasaan seseorang, dan juga menjaga lisan kita untuk tidak menyakiti hati orang lain.Dari hal inilah, KH Jawahir menerapkan metode tasawuf akhlakinya dalam mendidik masyarakat desa Dadap khususnya masyarakat yang terletak di sekitar masjid Nurul Huda.



Wawancara 2
Ustadz Asep, Mushalla Nur Hidayah.


Mushalla Nur Hidayah yang terletak di desa Dadap ini dibangun pada tahun 1996 oleh Ustadz Asep saepudin, didirikan di tengah-tengah masyarakat yang masih awam akan agama.Pengetahuan tentang agama di masyarakat setempat ini masih amat minim, sehingga tidak aneh apabila masih banyaknya warga yang masih minum-minuman keras, ataupun tidak menutup aurat, bahkan tidak melaksanakan ibadah puasa.Menurut beliau, setelah dibangunnya mushalla Nur Hidayah ini, perkembangan keagamaan masyarakat beranjak membaik.Sehingga yang tadinya anti akan menutup aurat, kini mulai berubah menjadi menutup aurat walaupun tidak semuanya dikarenakan apapun selalu ada tahapannya.Contoh lain seperti ketika dahulu sebelum adanya mushalla ini, masih adanya warga yang secara terang-terangan meminum minuman keras.Kini permasalahan mengenai minuman keras berangsur membaik, dalam artian walaupun masih ada, tetapi dilakukan secara tidak terbuka.
Metode yang digunakan oleh Ustadz Asep dalam membentuk karakter masyarakat, khususnya di sekitar kampung Nelayan mushalla Nur Hidayah ini, adalah dengan membenahi akhlak.Dalam pelaksanaannya, pembenahan akhlak ini dimulai dengan pendidikan terhadap anak-anak sekitar dalam bentuk mengaji setelah dilaksanakannya shalat maghrib.Pengajian anak-anak ini membahas tentang kitab “Akhlakul Banin”.Kitab ini merupakan karya Syekh Umar Ahmad Baroza.
Mengenai konsep “Aman dahulu, baru Iman”.Pandangan Ustadz Asep mengenai ini, yakni konsep itu ada, dan dicetuskan oleh orang-orang yang memang memiliki orientasi materialistis.Dan juga Iman itu sendiri berhubungan dengan Hidayah, dan Hidayah itu sendiri diberikan oleh Allah SWT hanya kepada orang yang di kehendaki-Nya, sehingga dalam metode dakwahnya, Ustadz Asep tidak pernah memaksakan akan Iman seseorang, dikarenakan tidak adanya paksaan dalam agama.Dan agama itu sendiri bersifat tidak memaksa.Sehingga, hal yang wajar apabila adanya pandangan bahwa iman datang setelah aman masih melekat pada benak masyarakat.



Wawancara 3
Ustadz Muslih, Mushalla Al-Badar
Dalam pengajiannya, beliau menjelaskan tentang isi dari kitab Nashohihul Ibad.Kitab ini merupakan karya imam nawawi al-bantani.Kitab ini merupakan sarah dari kitab yang dikarang oleh Imam Ghazali.Kitab ini berisi tentang nasihat-nasihat yang baik.
Metode dakwah beliau, khususnya menghadapi nelayan, menurut beliau bagaimana harusnya nelayan ini sadar akan kewajiban seorang muslim dalam hal ibadah.Beliau mengatakan bahwa, secara terusterang, masyarakat nelayan ini berprilaku sembarangan.Sembarang dalam artian mereka (nelayan) ini walaupun beragama Islam, akan tetapi kerap kali ada sebagian yang lalai dalam hal ibadahnya, khususnya dalam shalat.Merekapun terkadang memiliki pemikiran sendiri bahwa, mencari rizqi itu hukumnya wajib, sehingga kewajiban lain seperti shalat dapat digantikan oleh mencari rizqi ini.Dalam artian gugurlah kewajiban shalat itu sendiri.
Sehingga Ustadz Muslih dalam ceramahnya menghadapi masyarakat nelayan khususnya, beliau mengutip ayat Al-Quran Surat Toha ayat 124 :
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (١٢٤)
Artinya :
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”
Ini merupakan dalil yang menjadi rujukan Ustadz Muslih dalam menghadapi masyarakat nelayan khususnya agar tidak meninggalkan kewajiban sebagai seorang muslim, agar orientasi mereka bukan hanya untuk mencari rizqi, melainkan juga untuk ibadah.
Kemudian menurut beliau, barometer majunya Islam, terlihat dari ramainya masyarakat untuk berjama’ah di masjid atau mushalla.Menurut beliau, allhamdulillah bila kita lihat dari jama’ah shalat jum’at, memang fakta lapangan membuktikan bahwa jama’ah sangat ramai bahkan penuh.Ini menandakan bahwa Islam di pesisir Dadap ini beranjak maju.Menurut beliau juga antusiasme masyarakat mengenai keagamaan sangatlah baik.Bahkan menurut beliau, pengajian yang ada di desa Dadap ini dalam satu minggu ini penuh, bahkan ada yang melaksanakannya dua kali.Terlepas dari ibadah yang sifatnya individu atau pribadi, menurut Ustadz sendiri masih adanya masyarakat yang meninggalkan shalat.
Ustadz Muslih ini kerap kali memberikan ceramahnya di mushallanya yakni mushalla Al-Badar.Pengajian yang dilaksanakan pada hari Jum’at ini selalu dilaksanakan setiap minggunya.Dan juga pelaksanaan marhabanan yang dilaksanakan pada malam senin.


Wawancara 4
Ustadz Murod
Hal pertama yang menjadi permasalahan bagi masyarakat desa Dadap dalam menuntut ilmu agama, khususnya ibadah, yakni “kaslan” atau dalam bahasa indonesia berarti “malas”.Sebab, menurut beliau, malas merupakan perbuatan yang sangat disukai iblis, dan malas adalah awal dari kehancuran setiap pekerjaan atau perbuatan anak adam.
Hal lain dalam membentuk karakter masyarakat desa Dadap adalah pembelajaran mengenai “akhlakul karimah” atau artinya “akhlak yang baik”.Kata akhlak sendiri memiliki definisi yang sangat luas.Di desa Dadap ini, bagi Ustadz Murod akhlak merupakan hal paling penting, karena akhlak ini menunjukan sikap seorang muslim yang sebenarnya.Dalam prakteknya, Ustadz Murod memberikan pembelajran mengenai akhlak dalam setiap ceramahnya dan juga dalam pembahasan kajian kitab kuning seperti kitab “akhlakul banin”. Hal kedua yang sangat penting dalam membentuk karakter masayarakat Dadap adalah tentang akidah. Permasalahan lain dalam membangun karakter masyarakat Dadap yakni, mengenai Orientasi atau tujuan para jama’ah yang masih mengharapkan pahala.Pengajian yang rutin dilaksanakan di mushalla setempat ini yang banyak dihadiri oleh mayoritas ibu-ibu dan bapak-bapak lanjut usia ini, menjadi tolak ukur bagi ustadz Murod dalam menelaah karakter para jami’iah pengajian tersebut.Menurut beliau, menjadi sebuah permasalahan manakala mushalla atau masjid hanya dihadiri oleh orang-orang tua saja, sebab komponen lain seperti remaja atau pemuda pemudi masyarakat Dadap ini, mayoritas pergi keluar negri (menjadi TKW/TKI), padahal remaja atau pemuda pemudi inilah yang akan melanjutkan tonggak dakwah tersebut di masa yang akan datang.Dalam proses pengajian tersebut, Ustadz Murod menggunakan metode dakwah yang lebih mengedepankan kehidupan ukhrowi atau akhirat.Hal ini dikarenakan mayoritas peserta atau jami’iah pengajian tersebut adalah ibu-ibu dan bapak-bapak yang sudah lanjut usia.Beliau banyak mengutip riwayat-riwayat yang di ambil dari kitab “Riyadush Shalihin”.Dimana kitab tesebut kurang lebih menerangkan tentang dongeng atau sejarah-sejarah nabi.Hal ini sangat disukai oleh para jama’ah yang mayoritas lanjut usia.Hal ini dikarenakan menurut beliau, mengaji yang seharusnya ketika kita pulang membawa ilmu tersebut dan dapat mengamalkannya, akan tetapi jami’iah yang mayoritas lanjut usia tersebut lebih mengedepankan pahala dibandingkan ilmu yang ia dapat dan dapat ia amalkan.   

Wawancara 5
Ustadz Mufrod
Ustadz Mufrod adalah seorang aktivis, petugas kesehatan, dan juga salah satu pengurus di masjid Nurul Huda di desa Dadap.Dalam setiap ceramah beliau, dikarenakan beliau seorang yang ber-organisasi, maka pendekatan yang beliau lakukan adalah mengenai keorganisasian.Ketika beliau menjabat sebagai sekertaris di kepengurusan DKM masjid Nurul Huda, beliau kerap menerima permasalahan-permasalahan keagamaan yang terjadi di desa Dadap.Contoh kasus yang pernah terjadi menurut beliau adalah sekitar tahun 2008 terjadi kasus masuknya aqidah baru di desa Dadap ini, yakni “Syi’ah”.Menurut situs arrahmah.com , desa Dadap merupakan pusat basis Syi’ah di Indramayu ini.Dari kasus inilah terjadi keributan, sehingga Ustadz Mufrod berencana untuk meneliti dan mengklarifikasi hal itu.Dikarenakan Ustadz Mufrod ini selalu mengikuti pengajian-pengajian salaf (ahlus sunnah wal jama’ah) atau Nahdlatul ‘Ulama, maka faham ke NU-an nya sangat kuat.Ketika beliau menghadapi masalah seperti Syi’ah ini, beliau menggunakan metode toleransi.Dimana toleransi ini dikarenakan menurut beliau, keagamaan masyarakat Dadap yang masih kuat akan faham ahslussunnah wal jama’ah-nya.Sehingga, faham-faham baru seperti Syi’ah, muhammadiah ataupun aliran-aliran lain yang masuk, tidak akan berpengaruh terhadap masyarakat Dadap.Selama faham itu tidak menimbulkan perpecahan atau keributan, maka dalam hal ini Ustadz Mufrod membiarkan faham seperti Syi’ah ini tetap ada.


C.    Kesimpulan

Keagamaan masyarakat Dadap tak terlepas dari peranan seorang Ustadz.Pengajian-pengajian yang rutin dilaksanakan setiap minggunya, merupakan bukti dari adanya seorang penggerak di masyarakat itu sendiri.Semangat keagamaan masyarakat Dadap amatlah tinggi, hal ini berdasarkan kegiatan-kegiatan pengajian yang rutin dilaksanakan setiap minggunya.Dalam praktiknya, para Ustadz ini berusaha dan terus menerus membenahi akhlak dan juga keagamaan masyarakat disini.Terlepas dari setiap kalangan, entah itu nelayan, TKW atau TKI, dan juga anak-anak.
Mayoritas masyarakat Dadap berfahamkan ahlussunnah wal jama’ah ini juga memudahkan peran para Ustadz yang notabennya juga berfahamkan aqidah ahlussunnah wal jama’ah. Selain hanya mengajarkan mengenai hal-hal yang sifatnya ‘ubudiah, mu’amalah dan lain-lain, Ustadz juga merupakan figur bagi masyarakat, sebab Ustadz itu sendiri bagi masyarakat, dijadikan sebagai sandaran bagi permasalahan duniawi maupun ukhrowi.
Khususnya di Desa Dadap, peranan para Ustadz ini mampu mewarnai dari setiap bidang.Seperti halnya budaya atau tradisi.Tradisi masyarakat Dadap seperti Nadran atau pesta laut yang awalnya dianggap sebagai kegiatan yang menyimpang dari agama, kemudian di warnai oleh para Ustadz ini dengan metode tersendiri.Dengan kata lain, kegiatan Nadran ini tidak langsung dilarang, melainkan mewarnainya dengan pengajian-pengajian, yang awalnya tidak ada kegiatan pengajian ketika dilaksanakannya Nadran.Juga mengenai masalah penyembelihan kepala kerbau yang apabila dilihat sepintas seperti sebuah kegiatan yang menjerumuskan kita kepada kemusyrikan.Hal ini tidak dilihat seperti itu oleh para Ustadz di Desa Dadap.Melainkan meluruskan dan memaknai ulang, apa yang dimaksud dengan penyembelihan kepala kerbau ialah, kita sebagai manusia, hendaknya bersyukur.Bentuk rasa syukur itu seperti penyembelihan kepala kerbau yang awalnya hanya dibuang kelaut, kini kita rubah dari kata “membuang” itu menjadi “memberikan” kepada makhluk Allah yang ada di laut.Hal ini dimaksudkan bukan untuk menghapus tradisi nadran, melainkan mewarnai kembali maksud dan niat dilaksanakannya nadran itu sendiri, sehingga diterima oleh para masyarakat khususnya para nelayan.
Klaim masyarakat luar, di luar masyarakat Pesisir, terhadap masyarakat pesisir khususnya desa Dadap itu sendiri terbantahkan oleh realitas yang terjadi di desa Dadap.Yang mana awalnya masyarakat menilai pesisir itu keras atau berwatak keras, dan keagamaan pesisir yang harusnya amatlah kuat, hal ini terbantahkan oleh realitas yang terjadi di desa Dadap, dan juga berkat peranan para Ustadz yang hampir mayoritas para Ustadz dalam dakwahnya menjunjung tinggi akhlakul karimah atau akhlak yang baik.Akhlakul karimah, Pengajian-pengajian rutin yang dilaksanakan setiap minggunya, ini menjadi bukti bahwa klaim negatif terhadap masyarakat khususnya pesisir desa Dadap ini tidak benar dan tidak dapat di buktikan.Kembali, ini semua berkat peranan para Ustadz di desa Dadap itu sendiri.

Rasionalisme Rene Descartes

By : Fitrah Ali Yusuf Abdillah
RASIONALISME RENE DESCARTES

 
Rene Descartes dalam filsafatnya mengemukakan metode kesangsian untuk merenungkan terus sesuatu hal sampai tidak ada keragu-raguan lagi.Dia dijuluki sebagai “bapak filsafat modern” karena ia menempatkan akal (rasio) pada kedudukan yang tertinggi, satu hal yang memang didambakan oleh manusia di zaman modern. Filsafat Descartes – terutama konsep tentang manusia – bersiat dualisme. Ia menganggap jiwa (res cogitans) dan badan (res extensa) sebagai 2 hal yang terpisah. Konsep Descartes tentang manusia ini kelak akan dikritik habis-habisan oleh salah seorang tokoh aliran Filsafat Bahasa Biasa, Gilbert Ryle.
Menurut Descartes, untuk memperoleh pengetahuan yang terang dan jelas, maka terlebih dahulu kita harus meragukan segala sesuatu. Bagi Descartes, pengertian yang benar haruslah dapat menjamin dirinya sendiri. Untuk mendapatkan sesuatu pengetahuan yang tidak diragukan lagi kebenarannya, Descartes menggariskan 4 langkah aturan sebagai berikut:
  1. Kita harus menghindari sikap tergesa-gesa dan prasangka dalam mengambil sesuatu keputusan dan hanya menerima yang dihadirkan pada akal secara jelas dan tegas sehingga mustahil disangsikan.
  2. Setiap persoalan yang diteliti dibagikan dalam sebanyak mungkin bagi sejauh yang diperlukan bagi pemecahan yang memadai.
  3. Mengatur pikir sedemikian rupa dengan bertitik tolak dari objek yang sederhana sampai pada objek yang lebih kompleks. Atau dari pengertian yang sederhana dan mutlak sampai pada pengertian yang komplek dan nisbi.
  4. Setiap permasalahan ditinjau secara universal atau menyeluruh, sehingga tidak ada yang dilalaikan.
Juga dalam karyanya yang termasyhur, Discourse on Method, risalah tentang metode, Descartes mengajukan 6 bagian penting sebagai berikut :
  1. Membicarakan masalah ilmu-ilmu dengan menyebutkan akal sehat yang pada umumnya dimiliki semua orang. Menurut Descartes, akal sehat ada yang kurang, ada pula yang lebih banyak memilikinya, namun yang terpenting adalah penerapannya dalam aktivitas ilmiah. Metode yang ia coba temukan itu merupakan upaya untuk mengarahkan nalarnya sendiri secara optimal.
  2. Menjelaskan kaidah-kaidah pokok tentang metode yang akan dipergunakan dalam aktivias ilmiah. Bagi Descartes, sesuatu yang dikerjakan oleh satu orag lebih sempurna daripada yang dikerjakan oleh sekelompok orang secara patungan. Descartes mengajukan 4 langakha yang dapat mendukung metode yang dimaksud, yaitu sebagai berikut :
    • Janganlah pernah menerima baik apa saja sebagai benar, jika anda tidak mempunyai pengetahuan yang jelas mengenai kebenarannya.
    • Pecahkanlah tiap kesulitan anda menjadi sebanyak mungkin bagian dan sebanyak yag dapat dilakukan untuk mempermudah penyelesaiannya secara lebih baik.
    • Arahkan pemikiran anda secara tertib, mulai dari objek yang paling sederhana dan paling mudah diketahui, lalu meningkat sedikit demi sedikit ke pengetahuan yang paling kompleks.
    • Buatlah penomoran untuk seluruh permalasalahan selengkap mungkin, dan tinjau ulang secara menyeluruh sehingga anda dapat merasa pasti tidak sesuatupun yang ketinggalan.
  3. Menyebutkan beberapa kaidah moral yang menjadi landasan bagi penerapan metode sebagai berikut:
    • Mematuhi undang-undang dan adat-istiadat negeri, sambil berpegang pada agama yang diajarkan sejak masa kanak-kanak.
    • Bertindak tegas dan mantap, baik pada pendapat yang paling meyakinkan maupun pendapat yang paling meragukan.
    • Berusaha lebih mengubah diri sendiri daripada merombak tatanan dunia.
  4. Menegaskan pengabdian pada kebenaran yang acapkali terkecoh oleh indera.
  5. Menegaskan perihal dualisme dalam diri manusia, yang terdiri atas 2 substansi, yaitu jiwa bernalar dan jasmani yang meluas.
  6. Dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan spekulatif dan pengetahuan praktis.
Pada mulanya Descartes tidak puas dengan pengetahuan umumnya dengan alasan bahwa misalnya panca indera itu banyak sekali membohong, oleh sebab itu tidak boleh dijadikan dasar pengetahuan.
Yang dapat dipercaya kebenarannya adalah pikiran manusia, misalnya dalam ilmu pasti. Dalam waktu kecewa pada kebenaran pengetahuan yang berlangsung selama 9 tahun, timbul suatu pertanyaan pada dirinya sendiri yang tidak bisa dimungkiri lagi. Pertanyaan itu adalah: saya berakal, jadi saya ada, sebagai makhluk yang kecewa. Itulah permulaan aliran pikiran rasionalisme modern.
Descartes menganggap ilmu pasti, ilmu yang paling utama dari segala ilmu pengetahuan, karena segala pokok ilmu pengetahuan bisa ditemukan dalam ilmu tersebut.
Ahli-ahli filsafat rasionalisme ini ada 4, yaitu Descartes, Spinoza, Leibnitz, dan Wolf. Mereka dalam usaha mencari kebenaran dengan menggunakan perantaraan akal, dengan tandas mengakui bahwa pada hakekatnya mereka bertemu dengan adanya Tuhan, sebab buat Tuhan hanya ada satu kebenaran saja.
Descartes juga tidak mengadakan pendapat baru, hanya merubah haluan filsafat serta mendatangan pembaharuan. Kalau filsafat itu di atas dasar pikiran Aristoteles, maka Descartes mendudukkannya di atas fundamen ilmu pengetahuan, terlepas dari pelbagai prasangkaan dan kepercayaan yang tidak berdasar pada kebenaran.
Cara yang ditempuhnya ialah menjadikan dasar filsafat itu kesangsian. Untuk itu dia menggunakan senjata ragu, tidak percaya kepada sesuatu sehingga langit yang menanunginya itu pada mulanya tidak dipercayainya, demikian juga bumi tempat dia berpijak tidak dipercayainya.
Metode keraguan ini dipergunakan sebagai sistem mencari kebenaran, dan bukannya ia ragu benar-benar. Sifat ragu-ragu pada manusia itu diteruskannya dengan sangat, sampai akhirnya ia ragu pada undang-undang mathematik seperti logika, aljabar dan ilmu ukur yang sudah ditetapkan kebenarannya oleh pengetahuan manusia.
Dua pertanyaan yang dikemukakan Descartes dalam ijtihadnya menetapkan adanya Tuhan yang menjadikan alam semesta ini. Pertama: benarkah ada Tuhan? kedua, apakah Tuhan yang ada itu?
Untuk mengenal adanya Tuhan, Descartes perlu menempuh jalan yang belum pernah dilalui orang lain menurut jalan berfikirnya. Seorang harus terlebih dahulu melepaskan dirinya dari tubuhnya kemudian mencari kebenaran di dalam lautan diri yang telah terlepas dari jasmani. Hal itu bukan saja untuk mengetahui di luar diri sendiri, tetapi juga demikian untuk mengetahui dirinya yang sebenarnya.
Kepastian bahwa ia adalah “sesuatu yang berpikir” yang memberi Descartes landasan yang ia perlukan untuk membangun bangunan pengetahuan. Ia telah mendirikannya dengan metode ragu dan dengan memakai apa yang disebutnya dengan “cahaya nalar”. Ia terus menawarkan dua argumen untuk eksistensi Tuhan. Argumen pertama dimulai dari kesadarannya akan dirinya sendiri sebagai yang ada yang karena keraguannya, tidak sempurna namun mampu membuat gagasan tentang Tuhan sebagai wujud yang sempurna.

KESIMPULAN
Rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes yang disebut sebagai bapak filsafat modern. Ia berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah akal. Dalam filsafatnya ia mengemukakan metode kesangsian untuk merenungkan terus sesuatu hal sampai tidak ada keragu-raguan lagi. Menurut Descartes, untuk memperoleh pengetahuan yang terang dan jelas, maka terlebih dahulu kita harus meragukan segala sesuatu. Cara yang ditempuhnya ialah menjadikan dasar filsafat itu kesangsian. Metode keraguan ini dipergunakan sebagai sistem mencari kebenaran, dan bukannya ia ragu benar-benar.
Untuk mengenal adanya Tuhan, menurutnya seseorang harus terlebih dahulu melepaskan dirinya dari tubuhnya kemudian mencari kebenaran di dalam lautan diri yang telah terlepas dari jasmani.
 DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, Asmoro, Drs, 1994, Filsafat Umum, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Collinson, Diane, 2001, Lima Puluh Filosof Dunia yang Menggerakkan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.  
Muntasyir, Rizal, Drs, M.Hum dan Drs. Misnal Munir, M.Hum, 2003, Filsafat ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Mustansyir, Rizal, Drs, M.Hum, 2001, Filsafat Analitik, Sejarah, Perkembangan, dan Peranan Para Tokohnya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
The Liang Gie, 1991, Pengantar Filsafat ilmu, Yogyakarta: Liberty bekerjasama dengan Yayasan Studi Ilmu dan Teknologi.
Yaqub, H. Hamzah, dr, 1992, Filsafat Agama, Titik Temu Akal dengan Wahyu, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.  
Zubaedi, Dr, M.ag, dkk, 2007, Filsafat Barat dari Logika Baru Rene Descartes hingga Revolusi Sains ala Thomas Kuhn,  Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Postmodernisme

By : Fitrah Ali Yusuf Abdillah
POSTMODERNISME
 
Dunia saat ini sedang bergejolak, khususnya dalam bidang filsafat, ilmu, seni dan kebudayaan. Manusia merasa tidak puas dan tidak dapat bertahan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kapitalisme, serta cara berpikir modern. Modernisme dianggap sudah usang dan harus diganti dengan paradigma baru yaitu posmodernisme.
Posmodernisme adalah suatu pergerakan ide yang menggantikan ide-ide zaman modern (yang mengutamakan rasio, objektivitas, dan kemajuan). Posmodern memiliki cita-cita, ingin meningkatkan kondisi ekonomi dan sosial, kesadaran akan peristiwa sejarah dan perkembangan dalam bidang penyiaran. Posmodern mengkritik modernisme yang dianggap telah menyebabkan desentralisasi di bidang ekonomi dan teknologi, apalagi hal ini ditambah dengan pengaruh globalisasi. Selain itu, posmodern menganggap media yang ada saat ini hanya berkutat pada masalah yang sama dan saling meniru satu sama lain.
Wacana posmodern menjadi popular setelah Francois Lyotard (1924) menerbitkan bukunya The Postmodern Condition : A Report on Knowledge (1979). Posmodern pada awal kelahirannya merupakan kritik terhadap arus modernism yang semakin menggusur humanisme dari manusia sendiri, melahirkan materialism dan konsumerisme yang merusak lingkungan dan menguras semangat serta nilai masyarakat. Posmodernisme beraksi terhadap inti filsafat modernism; Idealisme Descartes, Empirisisme Locke, dan Eksistensialisme Husserl, analisis logis Newton dan metode ilmiah Prancis Bacon.
Francois Lyotard mengatakan bahwa posmodernisme merupakan intensifikasi yang dinamis, yang merupakan upaya terus menerus untuk mencari kebaruan, eksperimentasi dan revolusi kehidupan, yang menentang dan tidak percaya pada segala bentuk narasi besar, berupa penolakannya terhadap filsafat metafisis, filsafat sejarah, dan segala bentuk pemikiran totalitas, seperti Hegelian, Liberalisme, Marxisme, dan lain-lain. Posmodern dalam bidang filsafat dapat diartikan segala bentuk refleksi kritis atas paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya.
Posmodernis awal, Nietzsche, mengkritik Modernism (sains) sebagai kecurangan yang mengklaim kebenaran yang tetap, netral dan objektif padahal sesuatu itu adalah mustahil. Bagi Nietzsche, penjelasan ilmiah bukan penjelasan yang sebenarnya; itu hanya menghasilakan deskripsi yang rumit. Sedangkan Foucault curiga bahwa sains bukan disiplin netral seperti diklaim kaum Modernis, ada banyak teori bersaing dan berkompetisi disana. Sedangkan Baudrillard curiga terhadap peran media massa sebagai wujud dari modernisasi yang telah banyak melakukan kebohongan. “Apakah kita benar-benar melihat apa yang terjadi? Siapa mengatakan hal itu? Begitu kecurigaan Baudrillard. Bahkan ia curiga bahwa perang teluk hanyalah drama layar kaca, tidak benar-benar terjadi. ” Peperangan modern adalah peperangan cyber,”. Menurut kaum posmodernis Ia adalah sebuah rekayasa penuh kepentingan dari agenda kapitalisme. Baudrillard melihat kapitalisme sebagai ssuatu yang mengubah manusia menjadi benda.
Menurut Pauline Rosenau mengatakan bahwa, posmodernisme menganggap modernisme telah gagal dalam beberapa hal penting antara lain:
Pertama, modernisme gagal mewujudkan perbaikan-perbaikan dramatis sebagaimana diinginkan para pedukung fanatiknya.
Kedua, ilmu pengetahuan modern tidak mampu melepaskan diri dari kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan otoritas seperti tampak pada preferensi-preferensi yang seringkali mendahului hasil penelitian.
Lima paradoks yang digarisbawahi Ahmed antara lain ialah (Akbar S. Ahmed; 2002) : masyarakat mengajukan kritik pedas terhadap materialisme, tetapi pada saat yang sama pola hidup konsumerisme semakin menguat; masyarakat bisa menikmati kebebasan individual yang begitu prima yang belum pernah terjadi dalam sejarah, namun pada saat yang sama peranan Negara bertambah kokoh; dan masyarakat cenderung ragu terhadap agama, tetapi pada saat yang sama terdapat indikasi kelahiran metafisika dan agama.
Ketiga, ada semacam kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan ilmu-ilmu modern.
Keempat, ada semacam keyakinan – yang sesungguhnya tidak berdasar– bahwa ilmu pengetahuan modern mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi manusia dan lingkungannya; dan ternyata keyakinan ini keliru manakala kita menyaksikan bahwa kelaparan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan terus terjadi menyertai perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi.
DanKelima, ilmu-ilmu modern kurang memperhatikan dimensi-dimensi mistis dan metafisik eksistensi manusia karena terlalu menekankan pada atribut fisik individu.

Posmodernisme muncul untuk “meluruskan” kembali interpretasi sejarah yang dianggap otoriter. Untuk itu postmodernisme menghimbau agar kita semua berusaha keras untuk mengakui adanya identitas lain yang berada di luar wacana hegemoni. Posmodernisme mencoba mengingatkan kita untuk tidak terjerumus pada kesalahan fatal dengan menawarkan pemahaman perkembangan kapitalisme dalam kerangka genealogi (pengakuan bahwa proses sejarah tidak pernah melalui jalur tunggal, tetapi mempunyai banyak “sentral”).
Postmodernisme mengajak kaum kapitalis untuk tidak hanya memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan produktivitas dan keuntungan saja, tetapi juga melihat pada hal-hal yang berada pada alur vulgar material yang selama ini dianggap sebagai penyakit dan obyek pelecehan saja.
Postmodernisme sebagai suatu gerakan budaya sesungguhnya merupakan sebuah oto-kritik dalam filsafat Barat yang mengajak kita untuk melakukan perombakan filosofis secara total untuk tidak lagi melihat hubungan antar paradigma maupun antar wacana sebagai suatu “dialektika” seperti yang diajarkan Hegel. Postmodernisme menyangkal bahwa kemunculan suatu wacana baru pasti meniadakan wacana sebelumnya. Sebaliknya gerakan baru ini mengajak kita untuk melihat hubungan antar wacana sebagai hubungan “dialogis” yang saling memperkuat satu sama lain.
Berkaitan dengan kapitalisme dunia misalnya, Postmodenisme menyatakan bahwa krisis yang terjadi saat ini adalah akibat keteledoran ekonomi modern dalam beberapa hal, yaitu :
1) kapitalisme modern terlalu tergantung pada otoritas pada teoretisi sosialekonomi seperti Adam Smith, J.S.Mill, Max Weber, Keynes, Samuelson, dan lain-lain yang menciptakan postulasi teoritis untuk secara sewenangwenang merancang skenario bagi berlangsungnya prinsip kapitalisme;
2) modernisme memahami perkembangan sejarah secara keliru ketika menganggap sejarah sebagai suatu gerakan linear menuju suatu titik yang sudah pasti. Postmodenisme muncul dengan gagasan bahwa sejarah merupakan suatu genealogi, yakni proses yang polivalen, dan
3) erat kaitannya dengan kekeliruan dalam menginterpretasi perkembangan sejarah, ekonomi modern cenderung untuk hanya memperhitungkan aspek-aspek noble material dan mengesampingkan vulgar material sehingga berbagai upaya penyelesaian krisis seringkali justru berubah menjadi pelecehan. Inkonsistensi yang terjadi adalah akibat rendahnya empati para pembuat keputusan terhadap persoalan-persoalan yang mereka hadapi.
Postmodernisme bukanlah suatu gerakan homogen atau suatu kebulatan yang utuh. Sebaliknya, gerakan ini dipengaruhi oleh berbagai aliran pemikiran yang meliputi Mrxisme Barat, struktualisme Prancis, nihilisme, etnometodogi, romantisisme, popularisme, dan hermeneutika. Heterogenitas inilah yang barangkali menyebabkan sulitnya pemahaman orang awam terhadap postmodernisme. Dalam wujudnya yang bukan merupakan suatu kebulatan, postmodernisme tidak dapat dianggap sebagai suatu paradigma alternatif yang berpretensi untuk menawarkan solusi bagi persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh modernisme, melainkan lebih merupakan sebuah kritik permanen yang selalu mengingatkan kita untuk lebih mengenali esensi segala sesuatu dan mengurangi kecenderungan untuk secara sewenang-wenang membuat suatu standar interpretasi yang belum tentu benar.

CIRI-CIRI POSMODERNISME
Akbar S. Ahmed mengatakan terdapat delapan karakter sosiologis posmodernisme yang menonjol, yaitu :
Satu, timbulnya pemberontakan secara kritis terhadap proyek modernitas; memudarnya kepercayaan pada agama yang bersifat transenden (meta-narasi); dan diterimanya pandangan pluralisme relativisme kebenaran.
Dua, meledaknya industri media massa, sehingga ia bagaikan perpanjangan dari sistem indera, organ dan saraf kita, yang pada urutannya menjadikan dunia menjadi terasa kecil. Lebih dari itu, kekuatan media massa telah menjelma bagaikan “agama” atau “tuhan” sekuler, dalam artian perilaku orang tidak lagi ditentukan oleh agama-agama tradisional, tetapi tanpa disadari telah diatur oleh media massa, semisal program televisi.
Tiga, munculnya radikalisme etnis dan keagamaan. Fenomena ini muncul diduga sebagai reaksi atau alternatif ketika orang semakin meragukan terhadap kebenaran sains, teknologi dan filsafat yang dinilai gagal memenuhi janjinya untuk membebaskan manusia, tetapi sebaliknya, yang terjadi adalah penindasan.
Empat, munculnya kecenderungan baru untuk menemukan identitas dan apresiasi serta keterikatan rasionalisme dengan masa lalu.
Lima, semakin menguatnya wilayah perkotaan (urban) sebagai pusat kebudayaan, dan wilayah pedesaan sebagai daerah pinggiran. Pola ini juga berlaku bagi menguatnya dominasi negara maju atas negara berkembang. Ibarat negara maju sebagai “titik pusat” yang menentukan gerak pada “lingkaran pinggir”.
Enam, semakin terbukanya peluang bagi klas-klas sosial atau kelompok untuk mengemukakan pendapat secara lebih bebas. Dengan kata lain, era posmodernisme telah ikut mendorong bagi proses demokratisasi.
Tujuh, era posmodernisme juga ditandai dengan munculnya kecenderungan bagi tumbuhnya eklektisisme dan pencampuradukan dari berbagai wacana, potret serpihan-serpihan realitas, sehingga seseorang sulit untuk ditempatkan secara ketat pada kelompok budaya secara eksklusif.
Delapan, bahasa yang digunakan dalam waacana posmodernisme seringkali mengesankan ketidakjelasan makna dan inkonsistensi sehingga apa yang disebut “era posmodernisme” banyak mengandung paradoks



DAFTAR PUSTAKA
Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani, 2008. Filsafat Umum. Pustaka Setia, Bandung.
Akbar S. Ahmed. Posmodernisme and Islam. 1992
Bambang Sugiharto. Postmodernisme:Tantangan bagi Filsafat. Yogyakarta,Kanisius, 1996.
Frans Magnis Suseno, Pijar-Pijar Filsafat, Yogyakarta. Yogyakarta, Kanisius, 2005.
Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta, Penerbit Kanisius. 1980.

- Copyright © Ensiklopedia Tasawuf Filsafat dan Informatika FFSS - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Fitrah Ali Yusuf -