Teologi Islam Transformatif (Kontemporer)
By : Fitrah Ali Yusuf Abdillah
TEOLOGI ISLAM TRANSFORMATIF
1. Apa yang anda fahami tantang istilah Teologi Islam Transformatif? Dan bagaimana pendapat anda mengenai Islam sebagai agama yang melakukan Transformasi di Masyarakatnya?
Jawab:
a. Teologi Islam Transformatif menurut saya pribadi ialah sebuah proses pentransformasian baik itu sistem aqidah, syari’ah, sejarah, yang ada pada masyarakat guna menyelesaikan problem Teologi yang ada padanya.Transformasi ini lebih mengutamakan aspek kemanusiaan, dimana agama terlibat dan menyelesaikan masalah-masalah sosial yang sesuai dengan perkembangan zaman.
b. Pendapat saya mengenai Islam sebagai agama yang melakukan Transformasi di Masyarakatnya ialah, jika kita kembali pada saat Islam turun di Mekkah, kita melihat bahwa nabi Muhammad saw, mampu mentransformasikan baik itu sistem kepercayaan, ketidak adilan yang menindas kaum lemah, mendiskriminasi kaum wanita, dan lain-lain.Islam lahir sebagai penyelamat itu semua.Nabi Muhammad membawa Islam sebagai alat pentransformasian dari zaman jahiliah(kebodohan) menuju zaman yang terang benderang(beradab).
2. Coba jelaskan secara lengkap berkenaan dengan teori Kuntowijoyo yaitu Ilmu Sosial Profetik dan teori Muslim Abdurrahman yaitu Teologi Islam Transformatif. Berikan masing-masing dua contoh dari penggunaan kedua teori diatas.
Jawab:
a. Teori Kuntowijoyo
Ilmu Sosial Profetik menurut Kuntowijoyo ialah ilmu sosial yang mendasarkan kandungannya pada nilai humanisasi, liberasi dan transendensi. Alasannya, Islam sangat berkepentingan pada realitas sosial, bukan hanya untuk dipahami, tetapi juga untuk diubah dan dikendalikan. Oleh karena itu kelahiran Ilmu Sosial Profetik, juga didasarkan pada perubahan paradigma, yakni; sebuah gerakan yang mengajak umat Islam untuk menjadikan Al Qur’an sebagai teori-teori ilmu, agar dapat lebih bersifat aplikatif.
Contohnya : kita lihat pada Q.S. Ali Imron 110, dalam ayat itu menyebutkan bahwa kita dilahirkan untuk kemanusiaan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar.Kita lihat pada ayat ini untuk selalu saling mengingatkan dari hal-hal buruk.Ketidak adilan bukanlah sifat manusiawi, kasus korupsi, penindasan yang terjadi pada saat ini, agama harus membantu dengan memobilisasi massa agar terlibat dalam proses pemecahan masalah umat tersebut dan memberi hukum tegas terhadap orang yang menghalangi proses pemenuhan kebutuhan umum masyarakat dengan menimbun bahan makanan.
b. Teori Muslim Abdurrahman
Islam transformatif menurut Muslim Abdurrahman merupakan teologi praksis sosial, di mana agama diterjemahkan dalam keberpihakan kepada kaum miskin.Juga dia melihat proses sosial dari dimensi Islam yang disintesakan dengan ilmu-ilmu sosial lain, sekalipun ditulis oleh ilmuwan sosial Barat. Dalam mengatasi permasalahan proses sosial ia menggabungkan metode analisis sosial dengan teks (wahyu), jadi permasalahan sosial dianalisis dengan analisis sosial dan penafsiran teks, yang nantinya muncul makna baru yang digunakan sebagai solusinya.
3. Jelaskan teori double movement Fazlur Rahman dan teori Batas Syahrur secara singkat beserta contohnya. Dan sertakan pendapat anda mengenai kelebihan dan kekurangan dari teori-teori tersebut
Jawab :
a. Teori Double Movement Fazlur Rahman
Teori ini digunakan Fazlur Rahman untuk menafsirkan Al-Quran, dimana perlunya kajian terhadap sisi Historis turunnya sebuah ayat, yang kemudian diterapkan kedalam konteks kekinian.Dalam Teori ini terdapat dua gerak :
Gerak pertama merupakan tahap pemahaman arti atau makna dari suatu pernyataan dengan mengkaji ayat-ayat spesifik dalam sinaran situasi-situasi spesifikasinya, suatu kajian mengenai situasi makro dalam batasan-batasan masyarakat agama, adat istiadat, lembaga-lembaga bahkan mengenai kehidupan secara menyeluruh di Arabia pada saat turunnya Islam di kota Mekkah akan dilakukan. Jadi langkah pertama dari gerakan yang pertama adalah memahami makna al-Qur’an sebagai suatu keseluruhan disamping dala batas-batas ajaran yang khusus yang merupakan respon terhadap situasi-situasi khusus.
Gerak Kedua yakni tahap menarik nilai ideal moral pada masa kekinian, nilai Ideal moral dirumuskan kemudian dicari nilai relevansinya di masa sekarang apakah dapat memberikan konstribusi terhadap masalah?. Setelah melakukan relevansi, tahap berikutnya yang dilakukan dalam melakukan kontekstualisasi saat ini adalah mencari kemungkinan bahwa nilai ideal moral dapat dibumikan pada masyarakat.
Contoh aplikasi teori Fazlur Rahman : Contoh sederhana dari tema gerak gandanya Rahman dalam hal hak istri untuk bercerai dalam keadaan tertentu (khulup dalam analisisnya terhadapat ayat yang digunakan mayoritas ulama dalam peniadaan hak wanita ini adalah QS. Al Nisa' [IV] : 3 dan QS. Al Baqarah [II] : 28, yang menerangkan superioritas lelaki atas wanita. Pada gerak pertamanya Rahman mencoba mengangkat aspek historis ayat dengan latar belakang sosial budaya yang berlaku tentang status wanita pada waktu turunya ayat. Menurutnya masyarakat Arab ketika itu didorninasi oleh katun lelaki dan posisi katun wanita sangat lah rendah sehingga wajar saja ketika bunyi teks al-Qur'an menyesuaikan dengan kondisi zaman dan konteks turunnya ayat dan hal ini di•asakan sangat bersifat temporal. Dengan mengambil nilai yang lebih tunversal dari gerak pertamanya yaitu tentang persaniaan kedudukan antara laki-laki dan perempuan Ralunan beranjak ke gerakan kedua, Menurut Rahman, adalah sangat pelik untuk mempertahankan keadaan berdasarkan ayat-ayat tersebut bahwa masyarakat harus tetap seperti masyrakat Arab abad ke-7 M, atau masyrakat abad pertengahan pada umumnya, dia berpandangan bahwa anggapan mayoritas ulama tentang monopoli kmun laki-laki atas hak cerai sama sekali tidak dikuatkan dari al-Qur'an dan bahwa ketentuan mengenai hak cerai katun wanita adalah positif (Amal, 1992 : 90)
b. Teori Batas Muhammad Syahrur
c. Teori batasnya terdiri dari batas bawah (al-hadd al-adna/minimal) dan batas atas (al-hadd al-a’la/maksimal). Terdapat enam bentuk aplikatif teori batas ini dalam kajian terhadap ayat-ayat hukum, yakni:
d. Pertama, yang hanya memiliki batas bawah. Hal ini berlaku pada perempuan yang boleh dinikahi (QS. [4]: 22-23), jenis makanan yang diharamkan (QS. [5]: 3), [6]: 145-156), hutang piutang {QS. [2]: 283-284), dan pakaian wanita (QS. [4]: 31).
e. Kedua, yang hanya memiliki batas atas. Berlaku pada tindak pidana pencurian (QS. [5]: 38) dan pembunuhan (QS. [17]: 33, [2]: 178, [4]: 92).
f. Ketiga, yang memiliki batas atas dan bawah sekaligus. Berlaku pada hukum waris (QS. [4]: 11-14, 176) dan poligami (QS. [4]: 3).
g. Keempat, ketentuan batas bawah dan atas berada pada satu titik atau tidak ada alternatif lain dan tidak boleh kurang atau lebih. Berlaku pada hukum zina dengan seratus kali cambuk (QS. [24]: 2).
h. Kelima, ketentuan yang memiliki batas bawah dan atas sekaligus, tetapi keduanya tidak boleh disentuh, jika menyentuhnya berarti telah melanggar aturan Tuhan. Berlaku pada hubungan laki-laki dan perempuan. Jika antara laki-laki dan perempuan melakukan perbuatan mendekati zina tetapi belum berzina, maka keduanya belum terjatuh pada batas-batas hudud Allah.
i. Keenam, yang memiliki batas atas dan bawah, di mana batas atasnya bernilai positif dan tidak boleh dilampaui. Sedang batas bawahnya bernilai negatif dan boleh dilampaui. Berlaku pada hubungan kebendaan sesama manusia. Batas atas yang bernilai positif berupa riba, sementara batas bawahnya bernilai negatif berupa zakat.
j. Keenam bentuk teori batas yang dibuat Syahrur di atas berdampak pada istinbath hukum Islam. Kita ambil contoh dari teori hudud pertama yang hanya memiliki batas bawah, yakni mengenai pakaian dan aurat wanita. Ketika menafsirkan QS. [24]: 31, “Atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita”. Menurut Syahrur aurat adalah apa yang membuat seseorang malu apabila terlihat, dan aurat tidak berkaitan dengan halal haram, baik dari dekat maupun jauh. Ia membuat contoh, “Apabila ada orang yang botak dan tidak suka orang melihat kepalanya yang botak, maka dia akan memakai rambut palsu, sebab ia menganggap botak kepalanya sebagai aurat.” Kemudian ia mengutip hadits Nabi, “Barang siapa menutupi aurat mukmin, niscaya Allah akan menutupi auratnya.” Dia berkomentar, menutupi aurat mukmin dalam hadits itu, bukan berarti meletakkan baju padanya agar tidak terlihat. Lantas ia menyimpulkan bahwa aurat berangkat dari rasa malu, yakni ketidaksukaan seseorang ketika terlihatnya sesuatu, baik dari tubuhnya maupun perilakunya. Sedang malu menurutnya relatif, berubah-ubah sesuai dengan adat istiadat, zaman, dan tempat.
k. Maka ketika ada ayat yang menyuruh memakai jilbab dalam QS. [33]: 59, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.”
Pendapat saya pribadi mengenai kedua teori tersebut ialah, bila kita lihat dari sejak awal, proses penafsiran Al-Quran yang tiada hentinya, ini menandakan bahwa Agungnya Al-Quran.Tidak ada satupun tafsir mutlak (satu tafsir Al-Quran) yang digunakan didunia.Berkaitan dengan teori fazlur rahman, saya sangat mendukung, dimana seorang pembaca atau penafsir lebih melihat sisi ideal moralnya, seperti ayat tentang poligami, teks awal berbunyi diperbolehkan memiliki 4 istri, tapi kalimat selanjutnya berbunyi bahwa cukup satu saja, karna tidak ada manusia yang adil, ini menandakan bahwa Allah mengetahui psikologi manusia yang mana tidak dapat atau sulit berlaku adil.Disinilah letak Idela moralnya.
1. Apa yang anda fahami tantang istilah Teologi Islam Transformatif? Dan bagaimana pendapat anda mengenai Islam sebagai agama yang melakukan Transformasi di Masyarakatnya?
Jawab:
a. Teologi Islam Transformatif menurut saya pribadi ialah sebuah proses pentransformasian baik itu sistem aqidah, syari’ah, sejarah, yang ada pada masyarakat guna menyelesaikan problem Teologi yang ada padanya.Transformasi ini lebih mengutamakan aspek kemanusiaan, dimana agama terlibat dan menyelesaikan masalah-masalah sosial yang sesuai dengan perkembangan zaman.
b. Pendapat saya mengenai Islam sebagai agama yang melakukan Transformasi di Masyarakatnya ialah, jika kita kembali pada saat Islam turun di Mekkah, kita melihat bahwa nabi Muhammad saw, mampu mentransformasikan baik itu sistem kepercayaan, ketidak adilan yang menindas kaum lemah, mendiskriminasi kaum wanita, dan lain-lain.Islam lahir sebagai penyelamat itu semua.Nabi Muhammad membawa Islam sebagai alat pentransformasian dari zaman jahiliah(kebodohan) menuju zaman yang terang benderang(beradab).
2. Coba jelaskan secara lengkap berkenaan dengan teori Kuntowijoyo yaitu Ilmu Sosial Profetik dan teori Muslim Abdurrahman yaitu Teologi Islam Transformatif. Berikan masing-masing dua contoh dari penggunaan kedua teori diatas.
Jawab:
a. Teori Kuntowijoyo
Ilmu Sosial Profetik menurut Kuntowijoyo ialah ilmu sosial yang mendasarkan kandungannya pada nilai humanisasi, liberasi dan transendensi. Alasannya, Islam sangat berkepentingan pada realitas sosial, bukan hanya untuk dipahami, tetapi juga untuk diubah dan dikendalikan. Oleh karena itu kelahiran Ilmu Sosial Profetik, juga didasarkan pada perubahan paradigma, yakni; sebuah gerakan yang mengajak umat Islam untuk menjadikan Al Qur’an sebagai teori-teori ilmu, agar dapat lebih bersifat aplikatif.
Contohnya : kita lihat pada Q.S. Ali Imron 110, dalam ayat itu menyebutkan bahwa kita dilahirkan untuk kemanusiaan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar.Kita lihat pada ayat ini untuk selalu saling mengingatkan dari hal-hal buruk.Ketidak adilan bukanlah sifat manusiawi, kasus korupsi, penindasan yang terjadi pada saat ini, agama harus membantu dengan memobilisasi massa agar terlibat dalam proses pemecahan masalah umat tersebut dan memberi hukum tegas terhadap orang yang menghalangi proses pemenuhan kebutuhan umum masyarakat dengan menimbun bahan makanan.
b. Teori Muslim Abdurrahman
Islam transformatif menurut Muslim Abdurrahman merupakan teologi praksis sosial, di mana agama diterjemahkan dalam keberpihakan kepada kaum miskin.Juga dia melihat proses sosial dari dimensi Islam yang disintesakan dengan ilmu-ilmu sosial lain, sekalipun ditulis oleh ilmuwan sosial Barat. Dalam mengatasi permasalahan proses sosial ia menggabungkan metode analisis sosial dengan teks (wahyu), jadi permasalahan sosial dianalisis dengan analisis sosial dan penafsiran teks, yang nantinya muncul makna baru yang digunakan sebagai solusinya.
3. Jelaskan teori double movement Fazlur Rahman dan teori Batas Syahrur secara singkat beserta contohnya. Dan sertakan pendapat anda mengenai kelebihan dan kekurangan dari teori-teori tersebut
Jawab :
a. Teori Double Movement Fazlur Rahman
Teori ini digunakan Fazlur Rahman untuk menafsirkan Al-Quran, dimana perlunya kajian terhadap sisi Historis turunnya sebuah ayat, yang kemudian diterapkan kedalam konteks kekinian.Dalam Teori ini terdapat dua gerak :
Gerak pertama merupakan tahap pemahaman arti atau makna dari suatu pernyataan dengan mengkaji ayat-ayat spesifik dalam sinaran situasi-situasi spesifikasinya, suatu kajian mengenai situasi makro dalam batasan-batasan masyarakat agama, adat istiadat, lembaga-lembaga bahkan mengenai kehidupan secara menyeluruh di Arabia pada saat turunnya Islam di kota Mekkah akan dilakukan. Jadi langkah pertama dari gerakan yang pertama adalah memahami makna al-Qur’an sebagai suatu keseluruhan disamping dala batas-batas ajaran yang khusus yang merupakan respon terhadap situasi-situasi khusus.
Gerak Kedua yakni tahap menarik nilai ideal moral pada masa kekinian, nilai Ideal moral dirumuskan kemudian dicari nilai relevansinya di masa sekarang apakah dapat memberikan konstribusi terhadap masalah?. Setelah melakukan relevansi, tahap berikutnya yang dilakukan dalam melakukan kontekstualisasi saat ini adalah mencari kemungkinan bahwa nilai ideal moral dapat dibumikan pada masyarakat.
Contoh aplikasi teori Fazlur Rahman : Contoh sederhana dari tema gerak gandanya Rahman dalam hal hak istri untuk bercerai dalam keadaan tertentu (khulup dalam analisisnya terhadapat ayat yang digunakan mayoritas ulama dalam peniadaan hak wanita ini adalah QS. Al Nisa' [IV] : 3 dan QS. Al Baqarah [II] : 28, yang menerangkan superioritas lelaki atas wanita. Pada gerak pertamanya Rahman mencoba mengangkat aspek historis ayat dengan latar belakang sosial budaya yang berlaku tentang status wanita pada waktu turunya ayat. Menurutnya masyarakat Arab ketika itu didorninasi oleh katun lelaki dan posisi katun wanita sangat lah rendah sehingga wajar saja ketika bunyi teks al-Qur'an menyesuaikan dengan kondisi zaman dan konteks turunnya ayat dan hal ini di•asakan sangat bersifat temporal. Dengan mengambil nilai yang lebih tunversal dari gerak pertamanya yaitu tentang persaniaan kedudukan antara laki-laki dan perempuan Ralunan beranjak ke gerakan kedua, Menurut Rahman, adalah sangat pelik untuk mempertahankan keadaan berdasarkan ayat-ayat tersebut bahwa masyarakat harus tetap seperti masyrakat Arab abad ke-7 M, atau masyrakat abad pertengahan pada umumnya, dia berpandangan bahwa anggapan mayoritas ulama tentang monopoli kmun laki-laki atas hak cerai sama sekali tidak dikuatkan dari al-Qur'an dan bahwa ketentuan mengenai hak cerai katun wanita adalah positif (Amal, 1992 : 90)
b. Teori Batas Muhammad Syahrur
c. Teori batasnya terdiri dari batas bawah (al-hadd al-adna/minimal) dan batas atas (al-hadd al-a’la/maksimal). Terdapat enam bentuk aplikatif teori batas ini dalam kajian terhadap ayat-ayat hukum, yakni:
d. Pertama, yang hanya memiliki batas bawah. Hal ini berlaku pada perempuan yang boleh dinikahi (QS. [4]: 22-23), jenis makanan yang diharamkan (QS. [5]: 3), [6]: 145-156), hutang piutang {QS. [2]: 283-284), dan pakaian wanita (QS. [4]: 31).
e. Kedua, yang hanya memiliki batas atas. Berlaku pada tindak pidana pencurian (QS. [5]: 38) dan pembunuhan (QS. [17]: 33, [2]: 178, [4]: 92).
f. Ketiga, yang memiliki batas atas dan bawah sekaligus. Berlaku pada hukum waris (QS. [4]: 11-14, 176) dan poligami (QS. [4]: 3).
g. Keempat, ketentuan batas bawah dan atas berada pada satu titik atau tidak ada alternatif lain dan tidak boleh kurang atau lebih. Berlaku pada hukum zina dengan seratus kali cambuk (QS. [24]: 2).
h. Kelima, ketentuan yang memiliki batas bawah dan atas sekaligus, tetapi keduanya tidak boleh disentuh, jika menyentuhnya berarti telah melanggar aturan Tuhan. Berlaku pada hubungan laki-laki dan perempuan. Jika antara laki-laki dan perempuan melakukan perbuatan mendekati zina tetapi belum berzina, maka keduanya belum terjatuh pada batas-batas hudud Allah.
i. Keenam, yang memiliki batas atas dan bawah, di mana batas atasnya bernilai positif dan tidak boleh dilampaui. Sedang batas bawahnya bernilai negatif dan boleh dilampaui. Berlaku pada hubungan kebendaan sesama manusia. Batas atas yang bernilai positif berupa riba, sementara batas bawahnya bernilai negatif berupa zakat.
j. Keenam bentuk teori batas yang dibuat Syahrur di atas berdampak pada istinbath hukum Islam. Kita ambil contoh dari teori hudud pertama yang hanya memiliki batas bawah, yakni mengenai pakaian dan aurat wanita. Ketika menafsirkan QS. [24]: 31, “Atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita”. Menurut Syahrur aurat adalah apa yang membuat seseorang malu apabila terlihat, dan aurat tidak berkaitan dengan halal haram, baik dari dekat maupun jauh. Ia membuat contoh, “Apabila ada orang yang botak dan tidak suka orang melihat kepalanya yang botak, maka dia akan memakai rambut palsu, sebab ia menganggap botak kepalanya sebagai aurat.” Kemudian ia mengutip hadits Nabi, “Barang siapa menutupi aurat mukmin, niscaya Allah akan menutupi auratnya.” Dia berkomentar, menutupi aurat mukmin dalam hadits itu, bukan berarti meletakkan baju padanya agar tidak terlihat. Lantas ia menyimpulkan bahwa aurat berangkat dari rasa malu, yakni ketidaksukaan seseorang ketika terlihatnya sesuatu, baik dari tubuhnya maupun perilakunya. Sedang malu menurutnya relatif, berubah-ubah sesuai dengan adat istiadat, zaman, dan tempat.
k. Maka ketika ada ayat yang menyuruh memakai jilbab dalam QS. [33]: 59, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.”
Pendapat saya pribadi mengenai kedua teori tersebut ialah, bila kita lihat dari sejak awal, proses penafsiran Al-Quran yang tiada hentinya, ini menandakan bahwa Agungnya Al-Quran.Tidak ada satupun tafsir mutlak (satu tafsir Al-Quran) yang digunakan didunia.Berkaitan dengan teori fazlur rahman, saya sangat mendukung, dimana seorang pembaca atau penafsir lebih melihat sisi ideal moralnya, seperti ayat tentang poligami, teks awal berbunyi diperbolehkan memiliki 4 istri, tapi kalimat selanjutnya berbunyi bahwa cukup satu saja, karna tidak ada manusia yang adil, ini menandakan bahwa Allah mengetahui psikologi manusia yang mana tidak dapat atau sulit berlaku adil.Disinilah letak Idela moralnya.
Peranan Dakwah Ustadz Dalam Membentuk Karakter Masyarakat
By : Fitrah Ali Yusuf Abdillah
Peranan Dan Metode Dakwah Para Ustadz
Dalam Membentuk Karakter Masyarakat Pesisir
Di Desa Dadap
Oleh: Fitrah Ali Yusuf Abdillah (Filsafat Agama/7)
Nim: 14123341224
Dalam Membentuk Karakter Masyarakat Pesisir
Di Desa Dadap
Oleh: Fitrah Ali Yusuf Abdillah (Filsafat Agama/7)
Nim: 14123341224
A. Latar Belakang
Ustadz merupakan salah satu komponen penggerak masyarakat, baik itu dalam hal keagamaan, sosial, maupun ekonomi.Khususnya di desa Dadap, peranan para ustadz ini sangatlah dominan.Seorang ustadz yang selain hanya untuk berdakwah, juga selalu memberi solusi, baik itu masalah keagamaan, sosial, maupun masalah-masalah lainnya.Ustadz sendiri merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri.Sehingga, dalam praktek dakwahnya, kerap kali seorang ustadz ini bersentuhan langsung dengan masyarakat.Terlepas dari seluruh lapisan masyarakat, baik itu nelayan, pedagang, petani, ataupun TKW/TKI yang menjadi mata pencaharian yang paling mendominasi masyarakat Dadap saat ini.Berbicara mengenai karakter, klaim masyarakat di luar masyarakat pesisir.terhadap masyarakat pesisir itu sendiri, yakni masyarakat pesisir kerap kali disebut sebagai masyarakat yang keras, keras dalam artian baik itu watak, tabiat, dan perilaku maupun tradisi keagamaannya.
Islam pesisirpun kini menjadi wacana bagi kalangan akademis.Pasalnya, Islam yang masuk menurut beberapa teori yang mengatakan bahwa melalui jalur perdagangan, dan perdagangan itu masuk melalui jalur laut, sehingga para penyebar Islam (para wali atau Syekh) tempo dulu banyak bermukim di pesisir pantai, yang kemudian menyebarkan Islam pertama kali di pesisir pantai.Sehingga kerap kali mayarakat muslim pesisir disebut dengan masyarakat muslim asli.Hal ini dikarenakan pertama kalinya Islam masuk melalui jalur laut dan bermukim di pesisir pantai.Teori lain yang mengatakan bahwa Islam masuk melalui Habaib atau Habib (yakni keturunan rasulullah muhammad saw) atau biasa kita sebut dengan teori Habib, hal ini turut mendukung bahwa pada praktiknya, para habaib ini masuk ke Indonesia, khususnya pulau jawa melalui jalur laut dan berlayar menggunakan kapal laut.Di desa Dadap khususnya, terdapat beberapa Habib (keturunan rasulullah saw) yakni seperti, Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah, Habib Keling, dan lain-lainnya.Berkenaan dengan ini, Islam yang masuk melalui jalur laut itu kemudian berkembang dalam kurun waktu tertentu melalui dakwah atau syiar yang dibawa oleh para wali atau syekh penyebar Islam saat itu, kemudian tradisi penyebaran Islam itu berkembang hingga saat ini, dan sampailah ke desa Dadap.Menurut masyarakat setempat, penyebar Islam di desa Dadap saat itu ialah Syekh Sama’un.Kemudian dari Syekh Sama’un ini menurunkan baik anak cucunya dan juga menurunkan keilmuannya.Dari keilmuannya inilah, Islam terus berkembang hingga saat ini di desa Dadap.Dan tentunya penyebaran ini tidak terlepas dari penyebarnya yakni seorang “Ustadz”.Di desa Dadap sendiri khususnya terdapat banyak Ustadz yang terus menegakkan tonggak perjuangan Islam dari masa ke masa.Juga para ustadz ini mengabdi demi tegaknya nilai-nilai Islam di desa Dadap.
Para Ustadz di desa Dadap ini, berdomisili dan bertempat tinggal di dekat Mushalla yang di jalankannya.Setidaknya, terdapat kurang lebih 25 Mushalla di desa Dadap.Mushalla ini tersebar diseluruh wilayah di desa Dadap.Dan di setiap Mushalla ini terdapat kegiatan-kegiatan keagamaan seperti Tausiah, Majlis Ta’lim, Barzanji, atau Jami’iah Waqi’ah dan lain-lain.Kembali ke permasalahan masyarakat Pesisir, anggapan bahwa seharusnya masyarakat pesisir lebih maju keagamaannya dibanding masyarakat lain, dikarenakan notabenenya para Wali menyebarkan Islam rata-rata bermula di daerah pesisir, seperti Sunan Gunung Jati, Syekh Magelung Sakti, Habib Keling, dan lain-lain.Ini seharusnya menjadikan masyarakat pesisir lebih kental mengenai tradisi keagamaannya dan Islamnya itu sendiri.Berangkat dari sinilah penelitian ini dibuat.Hal pertama adalah Bagaimana karakteristik keagamaan masyarakat pesisir Dadap? , kemudian apa peranan dan metode dakwah para Ustadz dalam membentuk karakter masyarakat pesisir Dadap?
B. Pembahasan
Desa Dadap yang terbentang di pesisir pulau Jawa tepatnya di Kecamatan Juntinyuat berada di wilayah administrasi Kabupaten Indramayu.Berdasarkan data RKPDes Desa Dadap, mayoritas penduduknya memeluk Agama Islam.Masuknya Islam di desa Dadap ini tak terpisahkan dari salah seorang pembawanya yakni Syekh Sama’un.

Makam Syekh Sama’un
Menurut salah satu tokoh agama setempat, yakni Kyai Robak, Syekh Sama’un ini merupakan penyebar Islam di Desa Dadap.Beliu ini merupakan asli dari Demak.Syekh Sama’un ini juga memiliki pesantren yang di bangun di pinggir pantai Laut Jawa Desa Dadap.Kini pesantren itu sudah tidak ada karena tergenang air laut akibat proses abrasi air laut.Menurut versi Kyai Robak juga, Syekh Sama’un ini menikah sebanyak sembilan kali, dan di Dadap ini merupakan istri ke- sembilannya. Syekh Sama’un juga menurunkan keturunannya baik dari sisi biologis, maupun keilmuannya.Kyai Robak-pun menurut masyarakat adalah salah satu dari keturunan Syekh Sama’un.
Dari keturunannya inilah Islam mulai menyebar luas di desa Dadap.Secara keilmuanpun, banyak dari keturunan keilmuan yang diberikan oleh Syekh Sama’un menyebarkan Islam di desa Dadap ini.Siapakah mereka?, yakni para ustadz yang ikhlas mengajarkan ilmu agama di setiap mushalla atau tajug yang mereka jalankan di desa Dadap.
Peranan para Ustadz juga semakin meluas, mengingat Ustadz itu sendiri merupakan bagian dari masyarakat dan bersentuhan langsung dengan masyarakat.Sehingga, bila terjadi suatu polemik atau permasalahan, maka para Ustadz ini memberikan solusinya masing-masing sesuai dengan pemahamannya.
Mayoritas masyarakat Dadap ini berfahamkan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah atau biasa kita sebut dengan Asy’ariah.Hal ini dikarenakan aqidah ini sangatlah cocok dengan kondisi masyarakat Dadap, dan pertama kali Islam menyebar di desa Dadap ini berfahamkan Asy’ariah Ahlussunnah wal Jama’ah.Faham ini begitu merakyat bagi masyarakat Dadap.Sebab dalam faham ini, sangat menerima tradisi-tradisi lokal dan juga kearifan lokal dibandingkan dengan faham lain yang begitu mudahnya membid’ahkan segala sesuatunya.Dan juga dikarenakan faham aswaja (ahlussunnah wal jama’ah) ini menjunjung tinggi tasammuh (toleransi), tawassuth (moderat), dan tawaazun (seimbang). Sehingga mudah diterima oleh masyarakat Dadap.
Dalam membentuk karakter masyarakat pesisir Dadap ini, setiap Ustadz memiliki metode tersendiri.Khususnya menghadapi klaim masyarakat di luar masyarakat pesisir yang mengatakan bahwa masyarakat pesisir identik dengan berwatak keras, dan lain-lain.Hal lain seperti, seharusnya keilmuan Islam di masyarakat pesisir ini seharusnya lebih maju, hal ini secara tidak langsung mengatakan bahwa, masyarakat pesisir seharusnya maju di bidang keilmuan keagamaan dan begitupun dengan akhlak.Lalu bagaimana peranan Ustadz dalam menghadapi masyarakat Dadap khusunya yang mayoritas bermata pencaharian sebagai Nelayan dan TKW/TKI.
Berikut beberapa pendapat para Ustadz mengenai permasalahan yang terjadi di Desa Dadap, dan bagaimana peranan ustadz itu dalam membentuk karakter masyarakat.Juga tanggapan para Ustadz mengenai klaim masyarakat di luar masyarakat pesisir mengenai masyarakat pesisir.
Wawancara 1
KH. Jawahir, Masjid Nurul Huda
KH. Jawahir merupakan ketua MUI di desa Dadap, beliau menjabat selama sekitar empat tahun.Dalam setiap ceramah beliau, hal pertama yang beliau singgung adalah masalah ibadah “mahdoh” seperti shalat, puasa, dan lain-lain.Menurut beliau, ada yang paling penting dari itu semua, yakni ibadah yang sifatnya sosial.Dalam konteks ini, ibadah yang kaitannya dengan Tuhan, tetapi memiliki nilai sosial kemasyarakatan seperti tolong menolong antar sesama.Beliau juga menekankan akan pentingnya pengamalan dari nilai-nilai ibadah tersebut.Diantara semua itu, menurut beliau, hal yang paling pertama dan utama ialah pendidikan akhlak atau etika.Disini beliau memasukan ajaran atau nilai-nilai tasawuf dalam Islam seperti, pentingnya akan “akhlakul karimah” atau akhlak yang baik.Beliau menyebutnya dengan istilah “Ngaji Rasa”.Menurut beliau, sebesar apapun ilmu, sedalam apapun ilmu, tidak ada gunanya bila tidak memiliki akhlak yang baik.Dalam setiap ceramahnya, beliau banyak mengutip ayat-ayat dari tafsir Al-Quran.
Lebih jauh, mengenai nilai-nilai tasawuf yang beliau terapkan terhadap masyarkat yakni mengenai “melawan hawa nafsu”.Konteks melawan hawa nafsu ini sangatlah luas.Penerapannya ada di setiap sendi kehidupan seperti, nafsu kita akan mencari materi duniawi ini, dengan hawa nafsu ini, seseorang dapat terjerumus dalam keserakahan.Dan keserakahan ini adalah pintu awal menuju sebuah kehancuran.
Dalam setiap ceramahnya yang bernilai tasawuf juga, beliau banyak mengutip dari sejarah-sejarah para sahabat nabi atau waliyullah, seperti kisah Imam Sufyan Assauri.Imam Sufyan Assauri ini merupakan salah satu dari sepuluh imam mazhab yang terkenal di dunia.Kisahnya yaitu, diceritakan bahwa ketika Imam Sufyan Assauri tinggal bersama seorang Yahudi disebuah rumah bertingkat, pada tingkat pertama ini ditempati oleh seorang yahudi itu, kemudian dilantai bawah menjadi tempat tinggal Imam Sufyan Assauri.Suatu hari, ketika seorang yahudi ini buang air kecil, air kencingnya ini meresap kebawah, hingga mengenai lantai tempat Imam Sufyan Assauri.Kemudian Imam Sufyan Assauri ini menadahkan sebuah ember atau tempat air untuk menampung air kencing orang yahudi tersebut.Hingga suatu hari seorang yahudi tersebut berkunjung kepadanya, kemudian yahudi itu bertanya pada Imam Sufyan Assauri, “air apakah itu?”, Imam Sufyan Assauri menjawab “itu hanya sebuah air yang bocor saja”.Hari demi hari berlanjut, seorang yahudi ini kemudian mulai penasaran, mengapa selalu ada air yang menetes dari atap ruang Imam Sufyan Assauri.Singkat cetita, dikarenakan Imam Sufyan Assauri sudah kehabisan akal untuk menjawab yang sebenarnya, guna menghindari tersinggungnya seorang yahudi tersebut, dan juga untuk menjaga ucapannya agar tidak berbuat “ghibah”.kemudian beliau barulah jujur untuk mengatakan hal yang sebenarnya, bahwa itu adalah air kencing dari yahudi tersebut.Dari sinilah, menurut beliau (KH. Jawahir), dapat kita ambil pelajaran, bahwa pentingnya kita akan menjaga perasaan seseorang, dan juga menjaga lisan kita untuk tidak menyakiti hati orang lain.Dari hal inilah, KH Jawahir menerapkan metode tasawuf akhlakinya dalam mendidik masyarakat desa Dadap khususnya masyarakat yang terletak di sekitar masjid Nurul Huda.
Wawancara 2
Ustadz Asep, Mushalla Nur Hidayah.
Mushalla Nur Hidayah yang terletak di desa Dadap ini dibangun pada tahun 1996 oleh Ustadz Asep saepudin, didirikan di tengah-tengah masyarakat yang masih awam akan agama.Pengetahuan tentang agama di masyarakat setempat ini masih amat minim, sehingga tidak aneh apabila masih banyaknya warga yang masih minum-minuman keras, ataupun tidak menutup aurat, bahkan tidak melaksanakan ibadah puasa.Menurut beliau, setelah dibangunnya mushalla Nur Hidayah ini, perkembangan keagamaan masyarakat beranjak membaik.Sehingga yang tadinya anti akan menutup aurat, kini mulai berubah menjadi menutup aurat walaupun tidak semuanya dikarenakan apapun selalu ada tahapannya.Contoh lain seperti ketika dahulu sebelum adanya mushalla ini, masih adanya warga yang secara terang-terangan meminum minuman keras.Kini permasalahan mengenai minuman keras berangsur membaik, dalam artian walaupun masih ada, tetapi dilakukan secara tidak terbuka.
Metode yang digunakan oleh Ustadz Asep dalam membentuk karakter masyarakat, khususnya di sekitar kampung Nelayan mushalla Nur Hidayah ini, adalah dengan membenahi akhlak.Dalam pelaksanaannya, pembenahan akhlak ini dimulai dengan pendidikan terhadap anak-anak sekitar dalam bentuk mengaji setelah dilaksanakannya shalat maghrib.Pengajian anak-anak ini membahas tentang kitab “Akhlakul Banin”.Kitab ini merupakan karya Syekh Umar Ahmad Baroza.
Mengenai konsep “Aman dahulu, baru Iman”.Pandangan Ustadz Asep mengenai ini, yakni konsep itu ada, dan dicetuskan oleh orang-orang yang memang memiliki orientasi materialistis.Dan juga Iman itu sendiri berhubungan dengan Hidayah, dan Hidayah itu sendiri diberikan oleh Allah SWT hanya kepada orang yang di kehendaki-Nya, sehingga dalam metode dakwahnya, Ustadz Asep tidak pernah memaksakan akan Iman seseorang, dikarenakan tidak adanya paksaan dalam agama.Dan agama itu sendiri bersifat tidak memaksa.Sehingga, hal yang wajar apabila adanya pandangan bahwa iman datang setelah aman masih melekat pada benak masyarakat.
Wawancara 3
Ustadz Muslih, Mushalla Al-Badar
Dalam pengajiannya, beliau menjelaskan tentang isi dari kitab Nashohihul Ibad.Kitab ini merupakan karya imam nawawi al-bantani.Kitab ini merupakan sarah dari kitab yang dikarang oleh Imam Ghazali.Kitab ini berisi tentang nasihat-nasihat yang baik.
Metode dakwah beliau, khususnya menghadapi nelayan, menurut beliau bagaimana harusnya nelayan ini sadar akan kewajiban seorang muslim dalam hal ibadah.Beliau mengatakan bahwa, secara terusterang, masyarakat nelayan ini berprilaku sembarangan.Sembarang dalam artian mereka (nelayan) ini walaupun beragama Islam, akan tetapi kerap kali ada sebagian yang lalai dalam hal ibadahnya, khususnya dalam shalat.Merekapun terkadang memiliki pemikiran sendiri bahwa, mencari rizqi itu hukumnya wajib, sehingga kewajiban lain seperti shalat dapat digantikan oleh mencari rizqi ini.Dalam artian gugurlah kewajiban shalat itu sendiri.
Sehingga Ustadz Muslih dalam ceramahnya menghadapi masyarakat nelayan khususnya, beliau mengutip ayat Al-Quran Surat Toha ayat 124 :
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (١٢٤)
Artinya :
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”
Ini merupakan dalil yang menjadi rujukan Ustadz Muslih dalam menghadapi masyarakat nelayan khususnya agar tidak meninggalkan kewajiban sebagai seorang muslim, agar orientasi mereka bukan hanya untuk mencari rizqi, melainkan juga untuk ibadah.
Kemudian menurut beliau, barometer majunya Islam, terlihat dari ramainya masyarakat untuk berjama’ah di masjid atau mushalla.Menurut beliau, allhamdulillah bila kita lihat dari jama’ah shalat jum’at, memang fakta lapangan membuktikan bahwa jama’ah sangat ramai bahkan penuh.Ini menandakan bahwa Islam di pesisir Dadap ini beranjak maju.Menurut beliau juga antusiasme masyarakat mengenai keagamaan sangatlah baik.Bahkan menurut beliau, pengajian yang ada di desa Dadap ini dalam satu minggu ini penuh, bahkan ada yang melaksanakannya dua kali.Terlepas dari ibadah yang sifatnya individu atau pribadi, menurut Ustadz sendiri masih adanya masyarakat yang meninggalkan shalat.
Ustadz Muslih ini kerap kali memberikan ceramahnya di mushallanya yakni mushalla Al-Badar.Pengajian yang dilaksanakan pada hari Jum’at ini selalu dilaksanakan setiap minggunya.Dan juga pelaksanaan marhabanan yang dilaksanakan pada malam senin.
Wawancara 4
Ustadz Murod
Hal pertama yang menjadi permasalahan bagi masyarakat desa Dadap dalam menuntut ilmu agama, khususnya ibadah, yakni “kaslan” atau dalam bahasa indonesia berarti “malas”.Sebab, menurut beliau, malas merupakan perbuatan yang sangat disukai iblis, dan malas adalah awal dari kehancuran setiap pekerjaan atau perbuatan anak adam.
Hal lain dalam membentuk karakter masyarakat desa Dadap adalah pembelajaran mengenai “akhlakul karimah” atau artinya “akhlak yang baik”.Kata akhlak sendiri memiliki definisi yang sangat luas.Di desa Dadap ini, bagi Ustadz Murod akhlak merupakan hal paling penting, karena akhlak ini menunjukan sikap seorang muslim yang sebenarnya.Dalam prakteknya, Ustadz Murod memberikan pembelajran mengenai akhlak dalam setiap ceramahnya dan juga dalam pembahasan kajian kitab kuning seperti kitab “akhlakul banin”. Hal kedua yang sangat penting dalam membentuk karakter masayarakat Dadap adalah tentang akidah. Permasalahan lain dalam membangun karakter masyarakat Dadap yakni, mengenai Orientasi atau tujuan para jama’ah yang masih mengharapkan pahala.Pengajian yang rutin dilaksanakan di mushalla setempat ini yang banyak dihadiri oleh mayoritas ibu-ibu dan bapak-bapak lanjut usia ini, menjadi tolak ukur bagi ustadz Murod dalam menelaah karakter para jami’iah pengajian tersebut.Menurut beliau, menjadi sebuah permasalahan manakala mushalla atau masjid hanya dihadiri oleh orang-orang tua saja, sebab komponen lain seperti remaja atau pemuda pemudi masyarakat Dadap ini, mayoritas pergi keluar negri (menjadi TKW/TKI), padahal remaja atau pemuda pemudi inilah yang akan melanjutkan tonggak dakwah tersebut di masa yang akan datang.Dalam proses pengajian tersebut, Ustadz Murod menggunakan metode dakwah yang lebih mengedepankan kehidupan ukhrowi atau akhirat.Hal ini dikarenakan mayoritas peserta atau jami’iah pengajian tersebut adalah ibu-ibu dan bapak-bapak yang sudah lanjut usia.Beliau banyak mengutip riwayat-riwayat yang di ambil dari kitab “Riyadush Shalihin”.Dimana kitab tesebut kurang lebih menerangkan tentang dongeng atau sejarah-sejarah nabi.Hal ini sangat disukai oleh para jama’ah yang mayoritas lanjut usia.Hal ini dikarenakan menurut beliau, mengaji yang seharusnya ketika kita pulang membawa ilmu tersebut dan dapat mengamalkannya, akan tetapi jami’iah yang mayoritas lanjut usia tersebut lebih mengedepankan pahala dibandingkan ilmu yang ia dapat dan dapat ia amalkan.
Wawancara 5
Ustadz Mufrod
Ustadz Mufrod adalah seorang aktivis, petugas kesehatan, dan juga salah satu pengurus di masjid Nurul Huda di desa Dadap.Dalam setiap ceramah beliau, dikarenakan beliau seorang yang ber-organisasi, maka pendekatan yang beliau lakukan adalah mengenai keorganisasian.Ketika beliau menjabat sebagai sekertaris di kepengurusan DKM masjid Nurul Huda, beliau kerap menerima permasalahan-permasalahan keagamaan yang terjadi di desa Dadap.Contoh kasus yang pernah terjadi menurut beliau adalah sekitar tahun 2008 terjadi kasus masuknya aqidah baru di desa Dadap ini, yakni “Syi’ah”.Menurut situs arrahmah.com , desa Dadap merupakan pusat basis Syi’ah di Indramayu ini.Dari kasus inilah terjadi keributan, sehingga Ustadz Mufrod berencana untuk meneliti dan mengklarifikasi hal itu.Dikarenakan Ustadz Mufrod ini selalu mengikuti pengajian-pengajian salaf (ahlus sunnah wal jama’ah) atau Nahdlatul ‘Ulama, maka faham ke NU-an nya sangat kuat.Ketika beliau menghadapi masalah seperti Syi’ah ini, beliau menggunakan metode toleransi.Dimana toleransi ini dikarenakan menurut beliau, keagamaan masyarakat Dadap yang masih kuat akan faham ahslussunnah wal jama’ah-nya.Sehingga, faham-faham baru seperti Syi’ah, muhammadiah ataupun aliran-aliran lain yang masuk, tidak akan berpengaruh terhadap masyarakat Dadap.Selama faham itu tidak menimbulkan perpecahan atau keributan, maka dalam hal ini Ustadz Mufrod membiarkan faham seperti Syi’ah ini tetap ada.
C. Kesimpulan
Keagamaan masyarakat Dadap tak terlepas dari peranan seorang Ustadz.Pengajian-pengajian yang rutin dilaksanakan setiap minggunya, merupakan bukti dari adanya seorang penggerak di masyarakat itu sendiri.Semangat keagamaan masyarakat Dadap amatlah tinggi, hal ini berdasarkan kegiatan-kegiatan pengajian yang rutin dilaksanakan setiap minggunya.Dalam praktiknya, para Ustadz ini berusaha dan terus menerus membenahi akhlak dan juga keagamaan masyarakat disini.Terlepas dari setiap kalangan, entah itu nelayan, TKW atau TKI, dan juga anak-anak.
Mayoritas masyarakat Dadap berfahamkan ahlussunnah wal jama’ah ini juga memudahkan peran para Ustadz yang notabennya juga berfahamkan aqidah ahlussunnah wal jama’ah. Selain hanya mengajarkan mengenai hal-hal yang sifatnya ‘ubudiah, mu’amalah dan lain-lain, Ustadz juga merupakan figur bagi masyarakat, sebab Ustadz itu sendiri bagi masyarakat, dijadikan sebagai sandaran bagi permasalahan duniawi maupun ukhrowi.
Khususnya di Desa Dadap, peranan para Ustadz ini mampu mewarnai dari setiap bidang.Seperti halnya budaya atau tradisi.Tradisi masyarakat Dadap seperti Nadran atau pesta laut yang awalnya dianggap sebagai kegiatan yang menyimpang dari agama, kemudian di warnai oleh para Ustadz ini dengan metode tersendiri.Dengan kata lain, kegiatan Nadran ini tidak langsung dilarang, melainkan mewarnainya dengan pengajian-pengajian, yang awalnya tidak ada kegiatan pengajian ketika dilaksanakannya Nadran.Juga mengenai masalah penyembelihan kepala kerbau yang apabila dilihat sepintas seperti sebuah kegiatan yang menjerumuskan kita kepada kemusyrikan.Hal ini tidak dilihat seperti itu oleh para Ustadz di Desa Dadap.Melainkan meluruskan dan memaknai ulang, apa yang dimaksud dengan penyembelihan kepala kerbau ialah, kita sebagai manusia, hendaknya bersyukur.Bentuk rasa syukur itu seperti penyembelihan kepala kerbau yang awalnya hanya dibuang kelaut, kini kita rubah dari kata “membuang” itu menjadi “memberikan” kepada makhluk Allah yang ada di laut.Hal ini dimaksudkan bukan untuk menghapus tradisi nadran, melainkan mewarnai kembali maksud dan niat dilaksanakannya nadran itu sendiri, sehingga diterima oleh para masyarakat khususnya para nelayan.
Klaim masyarakat luar, di luar masyarakat Pesisir, terhadap masyarakat pesisir khususnya desa Dadap itu sendiri terbantahkan oleh realitas yang terjadi di desa Dadap.Yang mana awalnya masyarakat menilai pesisir itu keras atau berwatak keras, dan keagamaan pesisir yang harusnya amatlah kuat, hal ini terbantahkan oleh realitas yang terjadi di desa Dadap, dan juga berkat peranan para Ustadz yang hampir mayoritas para Ustadz dalam dakwahnya menjunjung tinggi akhlakul karimah atau akhlak yang baik.Akhlakul karimah, Pengajian-pengajian rutin yang dilaksanakan setiap minggunya, ini menjadi bukti bahwa klaim negatif terhadap masyarakat khususnya pesisir desa Dadap ini tidak benar dan tidak dapat di buktikan.Kembali, ini semua berkat peranan para Ustadz di desa Dadap itu sendiri.
Rasionalisme Rene Descartes
By : Fitrah Ali Yusuf Abdillah
RASIONALISME RENE DESCARTES
KESIMPULAN
Rene
Descartes dalam filsafatnya mengemukakan metode kesangsian untuk
merenungkan terus sesuatu hal sampai tidak ada keragu-raguan lagi.Dia dijuluki sebagai “bapak filsafat modern” karena ia menempatkan akal
(rasio) pada kedudukan yang tertinggi, satu hal yang memang didambakan
oleh manusia di zaman modern. Filsafat Descartes – terutama konsep
tentang manusia – bersiat dualisme. Ia menganggap jiwa (res cogitans) dan badan (res extensa)
sebagai 2 hal yang terpisah. Konsep Descartes tentang manusia ini kelak
akan dikritik habis-habisan oleh salah seorang tokoh aliran Filsafat
Bahasa Biasa, Gilbert Ryle.
Menurut
Descartes, untuk memperoleh pengetahuan yang terang dan jelas, maka
terlebih dahulu kita harus meragukan segala sesuatu. Bagi Descartes,
pengertian yang benar haruslah dapat menjamin dirinya sendiri. Untuk
mendapatkan sesuatu pengetahuan yang tidak diragukan lagi kebenarannya,
Descartes menggariskan 4 langkah aturan sebagai berikut:
- Kita harus menghindari sikap tergesa-gesa dan prasangka dalam mengambil sesuatu keputusan dan hanya menerima yang dihadirkan pada akal secara jelas dan tegas sehingga mustahil disangsikan.
- Setiap persoalan yang diteliti dibagikan dalam sebanyak mungkin bagi sejauh yang diperlukan bagi pemecahan yang memadai.
- Mengatur pikir sedemikian rupa dengan bertitik tolak dari objek yang sederhana sampai pada objek yang lebih kompleks. Atau dari pengertian yang sederhana dan mutlak sampai pada pengertian yang komplek dan nisbi.
- Setiap permasalahan ditinjau secara universal atau menyeluruh, sehingga tidak ada yang dilalaikan.
Juga dalam karyanya yang termasyhur, Discourse on Method, risalah tentang metode, Descartes mengajukan 6 bagian penting sebagai berikut :
- Membicarakan masalah ilmu-ilmu dengan menyebutkan akal sehat yang pada umumnya dimiliki semua orang. Menurut Descartes, akal sehat ada yang kurang, ada pula yang lebih banyak memilikinya, namun yang terpenting adalah penerapannya dalam aktivitas ilmiah. Metode yang ia coba temukan itu merupakan upaya untuk mengarahkan nalarnya sendiri secara optimal.
- Menjelaskan
kaidah-kaidah pokok tentang metode yang akan dipergunakan dalam
aktivias ilmiah. Bagi Descartes, sesuatu yang dikerjakan oleh satu orag
lebih sempurna daripada yang dikerjakan oleh sekelompok orang secara
patungan. Descartes mengajukan 4 langakha yang dapat mendukung metode
yang dimaksud, yaitu sebagai berikut :
- Janganlah pernah menerima baik apa saja sebagai benar, jika anda tidak mempunyai pengetahuan yang jelas mengenai kebenarannya.
- Pecahkanlah tiap kesulitan anda menjadi sebanyak mungkin bagian dan sebanyak yag dapat dilakukan untuk mempermudah penyelesaiannya secara lebih baik.
- Arahkan pemikiran anda secara tertib, mulai dari objek yang paling sederhana dan paling mudah diketahui, lalu meningkat sedikit demi sedikit ke pengetahuan yang paling kompleks.
- Buatlah penomoran untuk seluruh permalasalahan selengkap mungkin, dan tinjau ulang secara menyeluruh sehingga anda dapat merasa pasti tidak sesuatupun yang ketinggalan.
- Menyebutkan beberapa kaidah moral yang menjadi landasan bagi penerapan metode sebagai berikut:
- Mematuhi undang-undang dan adat-istiadat negeri, sambil berpegang pada agama yang diajarkan sejak masa kanak-kanak.
- Bertindak tegas dan mantap, baik pada pendapat yang paling meyakinkan maupun pendapat yang paling meragukan.
- Berusaha lebih mengubah diri sendiri daripada merombak tatanan dunia.
- Menegaskan pengabdian pada kebenaran yang acapkali terkecoh oleh indera.
- Menegaskan perihal dualisme dalam diri manusia, yang terdiri atas 2 substansi, yaitu jiwa bernalar dan jasmani yang meluas.
- Dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan spekulatif dan pengetahuan praktis.
Pada
mulanya Descartes tidak puas dengan pengetahuan umumnya dengan alasan
bahwa misalnya panca indera itu banyak sekali membohong, oleh sebab itu
tidak boleh dijadikan dasar pengetahuan.
Yang
dapat dipercaya kebenarannya adalah pikiran manusia, misalnya dalam
ilmu pasti. Dalam waktu kecewa pada kebenaran pengetahuan yang
berlangsung selama 9 tahun, timbul suatu pertanyaan pada dirinya sendiri
yang tidak bisa dimungkiri lagi. Pertanyaan itu adalah: saya berakal,
jadi saya ada, sebagai makhluk yang kecewa. Itulah permulaan aliran
pikiran rasionalisme modern.
Descartes
menganggap ilmu pasti, ilmu yang paling utama dari segala ilmu
pengetahuan, karena segala pokok ilmu pengetahuan bisa ditemukan dalam
ilmu tersebut.
Ahli-ahli
filsafat rasionalisme ini ada 4, yaitu Descartes, Spinoza, Leibnitz,
dan Wolf. Mereka dalam usaha mencari kebenaran dengan menggunakan
perantaraan akal, dengan tandas mengakui bahwa pada hakekatnya mereka
bertemu dengan adanya Tuhan, sebab buat Tuhan hanya ada satu kebenaran
saja.
Descartes
juga tidak mengadakan pendapat baru, hanya merubah haluan filsafat
serta mendatangan pembaharuan. Kalau filsafat itu di atas dasar pikiran
Aristoteles, maka Descartes mendudukkannya di atas fundamen ilmu
pengetahuan, terlepas dari pelbagai prasangkaan dan kepercayaan yang
tidak berdasar pada kebenaran.
Cara yang ditempuhnya ialah menjadikan dasar filsafat itu kesangsian. Untuk
itu dia menggunakan senjata ragu, tidak percaya kepada sesuatu sehingga
langit yang menanunginya itu pada mulanya tidak dipercayainya, demikian
juga bumi tempat dia berpijak tidak dipercayainya.
Metode
keraguan ini dipergunakan sebagai sistem mencari kebenaran, dan
bukannya ia ragu benar-benar. Sifat ragu-ragu pada manusia itu
diteruskannya dengan sangat, sampai akhirnya ia ragu pada undang-undang
mathematik seperti logika, aljabar dan ilmu ukur yang sudah ditetapkan
kebenarannya oleh pengetahuan manusia.
Dua
pertanyaan yang dikemukakan Descartes dalam ijtihadnya menetapkan
adanya Tuhan yang menjadikan alam semesta ini. Pertama: benarkah ada
Tuhan? kedua, apakah Tuhan yang ada itu?
Untuk
mengenal adanya Tuhan, Descartes perlu menempuh jalan yang belum pernah
dilalui orang lain menurut jalan berfikirnya. Seorang harus terlebih
dahulu melepaskan dirinya dari tubuhnya kemudian mencari kebenaran di
dalam lautan diri yang telah terlepas dari jasmani. Hal itu bukan saja
untuk mengetahui di luar diri sendiri, tetapi juga demikian untuk
mengetahui dirinya yang sebenarnya.
Kepastian
bahwa ia adalah “sesuatu yang berpikir” yang memberi Descartes landasan
yang ia perlukan untuk membangun bangunan pengetahuan. Ia telah
mendirikannya dengan metode ragu dan dengan memakai apa yang disebutnya
dengan “cahaya nalar”. Ia terus menawarkan dua argumen untuk eksistensi
Tuhan. Argumen pertama dimulai dari kesadarannya akan dirinya sendiri
sebagai yang ada yang karena keraguannya, tidak sempurna namun mampu
membuat gagasan tentang Tuhan sebagai wujud yang sempurna.
KESIMPULAN
Rasionalisme
dipelopori oleh Rene Descartes yang disebut sebagai bapak filsafat
modern. Ia berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya
adalah akal. Dalam filsafatnya ia mengemukakan metode kesangsian untuk
merenungkan terus sesuatu hal sampai tidak ada keragu-raguan lagi.
Menurut Descartes, untuk memperoleh pengetahuan yang terang dan jelas,
maka terlebih dahulu kita harus meragukan segala sesuatu. Cara yang
ditempuhnya ialah menjadikan dasar filsafat itu kesangsian. Metode keraguan ini dipergunakan sebagai sistem mencari kebenaran, dan bukannya ia ragu benar-benar.
Untuk
mengenal adanya Tuhan, menurutnya seseorang harus terlebih dahulu
melepaskan dirinya dari tubuhnya kemudian mencari kebenaran di dalam
lautan diri yang telah terlepas dari jasmani.
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, Asmoro, Drs, 1994, Filsafat Umum, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Collinson, Diane, 2001, Lima Puluh Filosof Dunia yang Menggerakkan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Muntasyir, Rizal, Drs, M.Hum dan Drs. Misnal Munir, M.Hum, 2003, Filsafat ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Mustansyir, Rizal, Drs, M.Hum, 2001, Filsafat Analitik, Sejarah, Perkembangan, dan Peranan Para Tokohnya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
The Liang Gie, 1991, Pengantar Filsafat ilmu, Yogyakarta: Liberty bekerjasama dengan Yayasan Studi Ilmu dan Teknologi.
Yaqub, H. Hamzah, dr, 1992, Filsafat Agama, Titik Temu Akal dengan Wahyu, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.
Zubaedi, Dr, M.ag, dkk, 2007, Filsafat Barat dari Logika Baru Rene Descartes hingga Revolusi Sains ala Thomas Kuhn, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Postmodernisme
By : Fitrah Ali Yusuf Abdillah
POSTMODERNISME
Dunia saat ini sedang bergejolak, khususnya dalam bidang filsafat,
ilmu, seni dan kebudayaan. Manusia merasa tidak puas dan tidak dapat
bertahan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
kapitalisme, serta cara berpikir modern. Modernisme dianggap sudah usang
dan harus diganti dengan paradigma baru yaitu posmodernisme.
Posmodernisme adalah suatu pergerakan ide yang menggantikan ide-ide
zaman modern (yang mengutamakan rasio, objektivitas, dan kemajuan).
Posmodern memiliki cita-cita, ingin meningkatkan kondisi ekonomi dan
sosial, kesadaran akan peristiwa sejarah dan perkembangan dalam bidang
penyiaran. Posmodern mengkritik modernisme yang dianggap telah
menyebabkan desentralisasi di bidang ekonomi dan teknologi, apalagi hal
ini ditambah dengan pengaruh globalisasi. Selain itu, posmodern
menganggap media yang ada saat ini hanya berkutat pada masalah yang sama
dan saling meniru satu sama lain.
Wacana posmodern menjadi popular setelah Francois Lyotard (1924) menerbitkan bukunya The Postmodern Condition : A Report on Knowledge (1979).
Posmodern pada awal kelahirannya merupakan kritik terhadap arus
modernism yang semakin menggusur humanisme dari manusia sendiri,
melahirkan materialism dan konsumerisme yang merusak lingkungan dan
menguras semangat serta nilai masyarakat. Posmodernisme beraksi terhadap
inti filsafat modernism; Idealisme Descartes, Empirisisme Locke, dan
Eksistensialisme Husserl, analisis logis Newton dan metode ilmiah
Prancis Bacon.
Francois Lyotard mengatakan bahwa posmodernisme merupakan
intensifikasi yang dinamis, yang merupakan upaya terus menerus untuk
mencari kebaruan, eksperimentasi dan revolusi kehidupan, yang menentang
dan tidak percaya pada segala bentuk narasi besar, berupa penolakannya
terhadap filsafat metafisis, filsafat sejarah, dan segala bentuk
pemikiran totalitas, seperti Hegelian, Liberalisme, Marxisme, dan
lain-lain. Posmodern dalam bidang filsafat dapat diartikan segala bentuk
refleksi kritis atas paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya.
Posmodernis awal, Nietzsche, mengkritik Modernism (sains) sebagai
kecurangan yang mengklaim kebenaran yang tetap, netral dan objektif
padahal sesuatu itu adalah mustahil. Bagi Nietzsche, penjelasan ilmiah
bukan penjelasan yang sebenarnya; itu hanya menghasilakan deskripsi yang
rumit. Sedangkan Foucault curiga bahwa sains bukan disiplin netral
seperti diklaim kaum Modernis, ada banyak teori bersaing dan
berkompetisi disana. Sedangkan Baudrillard curiga terhadap peran media
massa sebagai wujud dari modernisasi yang telah banyak melakukan
kebohongan. “Apakah kita benar-benar melihat apa yang terjadi? Siapa
mengatakan hal itu? Begitu kecurigaan Baudrillard. Bahkan ia curiga
bahwa perang teluk hanyalah drama layar kaca, tidak benar-benar terjadi.
” Peperangan modern adalah peperangan cyber,”. Menurut kaum posmodernis
Ia adalah sebuah rekayasa penuh kepentingan dari agenda kapitalisme.
Baudrillard melihat kapitalisme sebagai ssuatu yang mengubah manusia
menjadi benda.
Menurut Pauline Rosenau mengatakan bahwa, posmodernisme menganggap
modernisme telah gagal dalam beberapa hal penting antara lain:
Pertama, modernisme gagal mewujudkan perbaikan-perbaikan dramatis sebagaimana diinginkan para pedukung fanatiknya.
Kedua, ilmu
pengetahuan modern tidak mampu melepaskan diri dari kesewenang-wenangan
dan penyalahgunaan otoritas seperti tampak pada preferensi-preferensi
yang seringkali mendahului hasil penelitian.
Lima paradoks yang digarisbawahi Ahmed antara lain ialah (Akbar S.
Ahmed; 2002) : masyarakat mengajukan kritik pedas terhadap materialisme,
tetapi pada saat yang sama pola hidup konsumerisme semakin menguat;
masyarakat bisa menikmati kebebasan individual yang begitu prima yang
belum pernah terjadi dalam sejarah, namun pada saat yang sama peranan
Negara bertambah kokoh; dan masyarakat cenderung ragu terhadap agama,
tetapi pada saat yang sama terdapat indikasi kelahiran metafisika dan
agama.
Ketiga, ada semacam kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan ilmu-ilmu modern.
Keempat, ada
semacam keyakinan – yang sesungguhnya tidak berdasar– bahwa ilmu
pengetahuan modern mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi
manusia dan lingkungannya; dan ternyata keyakinan ini keliru manakala
kita menyaksikan bahwa kelaparan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan
terus terjadi menyertai perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi.
DanKelima,
ilmu-ilmu modern kurang memperhatikan dimensi-dimensi mistis dan
metafisik eksistensi manusia karena terlalu menekankan pada atribut
fisik individu.
Posmodernisme muncul untuk “meluruskan” kembali interpretasi sejarah
yang dianggap otoriter. Untuk itu postmodernisme menghimbau agar kita
semua berusaha keras untuk mengakui adanya identitas lain yang berada di
luar wacana hegemoni. Posmodernisme mencoba mengingatkan kita untuk
tidak terjerumus pada kesalahan fatal dengan menawarkan pemahaman
perkembangan kapitalisme dalam kerangka genealogi (pengakuan bahwa
proses sejarah tidak pernah melalui jalur tunggal, tetapi mempunyai
banyak “sentral”).
Postmodernisme mengajak kaum kapitalis untuk tidak hanya memikirkan
hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan produktivitas dan keuntungan
saja, tetapi juga melihat pada hal-hal yang berada pada alur vulgar
material yang selama ini dianggap sebagai penyakit dan obyek pelecehan
saja.
Postmodernisme sebagai suatu gerakan budaya sesungguhnya merupakan
sebuah oto-kritik dalam filsafat Barat yang mengajak kita untuk
melakukan perombakan filosofis secara total untuk tidak lagi melihat
hubungan antar paradigma maupun antar wacana sebagai suatu “dialektika”
seperti yang diajarkan Hegel. Postmodernisme menyangkal bahwa kemunculan
suatu wacana baru pasti meniadakan wacana sebelumnya. Sebaliknya
gerakan baru ini mengajak kita untuk melihat hubungan antar wacana
sebagai hubungan “dialogis” yang saling memperkuat satu sama lain.
Berkaitan dengan kapitalisme dunia misalnya, Postmodenisme menyatakan
bahwa krisis yang terjadi saat ini adalah akibat keteledoran ekonomi
modern dalam beberapa hal, yaitu :
1) kapitalisme modern terlalu tergantung pada otoritas pada teoretisi
sosialekonomi seperti Adam Smith, J.S.Mill, Max Weber, Keynes,
Samuelson, dan lain-lain yang menciptakan postulasi teoritis untuk
secara sewenangwenang merancang skenario bagi berlangsungnya prinsip
kapitalisme;
2) modernisme memahami perkembangan sejarah secara keliru ketika
menganggap sejarah sebagai suatu gerakan linear menuju suatu titik yang
sudah pasti. Postmodenisme muncul dengan gagasan bahwa sejarah merupakan
suatu genealogi, yakni proses yang polivalen, dan
3) erat kaitannya dengan kekeliruan dalam menginterpretasi
perkembangan sejarah, ekonomi modern cenderung untuk hanya
memperhitungkan aspek-aspek noble material dan mengesampingkan vulgar
material sehingga berbagai upaya penyelesaian krisis seringkali justru
berubah menjadi pelecehan. Inkonsistensi yang terjadi adalah akibat
rendahnya empati para pembuat keputusan terhadap persoalan-persoalan
yang mereka hadapi.
Postmodernisme bukanlah suatu gerakan homogen atau suatu kebulatan
yang utuh. Sebaliknya, gerakan ini dipengaruhi oleh berbagai aliran
pemikiran yang meliputi Mrxisme Barat, struktualisme Prancis, nihilisme,
etnometodogi, romantisisme, popularisme, dan hermeneutika.
Heterogenitas inilah yang barangkali menyebabkan sulitnya pemahaman
orang awam terhadap postmodernisme. Dalam wujudnya yang bukan merupakan
suatu kebulatan, postmodernisme tidak dapat dianggap sebagai suatu
paradigma alternatif yang berpretensi untuk menawarkan solusi bagi
persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh modernisme, melainkan lebih
merupakan sebuah kritik permanen yang selalu mengingatkan kita untuk
lebih mengenali esensi segala sesuatu dan mengurangi kecenderungan untuk
secara sewenang-wenang membuat suatu standar interpretasi yang belum
tentu benar.
CIRI-CIRI POSMODERNISME
Akbar S. Ahmed mengatakan terdapat delapan karakter sosiologis posmodernisme yang menonjol, yaitu :
Satu,
timbulnya pemberontakan secara kritis terhadap proyek modernitas;
memudarnya kepercayaan pada agama yang bersifat transenden
(meta-narasi); dan diterimanya pandangan pluralisme relativisme
kebenaran.
Dua,
meledaknya industri media massa, sehingga ia bagaikan perpanjangan dari
sistem indera, organ dan saraf kita, yang pada urutannya menjadikan
dunia menjadi terasa kecil. Lebih dari itu, kekuatan media massa telah
menjelma bagaikan “agama” atau “tuhan” sekuler, dalam artian perilaku
orang tidak lagi ditentukan oleh agama-agama tradisional, tetapi tanpa
disadari telah diatur oleh media massa, semisal program televisi.
Tiga,
munculnya radikalisme etnis dan keagamaan. Fenomena ini muncul diduga
sebagai reaksi atau alternatif ketika orang semakin meragukan terhadap
kebenaran sains, teknologi dan filsafat yang dinilai gagal memenuhi
janjinya untuk membebaskan manusia, tetapi sebaliknya, yang terjadi
adalah penindasan.
Empat, munculnya kecenderungan baru untuk menemukan identitas dan apresiasi serta keterikatan rasionalisme dengan masa lalu.
Lima,
semakin menguatnya wilayah perkotaan (urban) sebagai pusat kebudayaan,
dan wilayah pedesaan sebagai daerah pinggiran. Pola ini juga berlaku
bagi menguatnya dominasi negara maju atas negara berkembang. Ibarat
negara maju sebagai “titik pusat” yang menentukan gerak pada “lingkaran
pinggir”.
Enam,
semakin terbukanya peluang bagi klas-klas sosial atau kelompok untuk
mengemukakan pendapat secara lebih bebas. Dengan kata lain, era
posmodernisme telah ikut mendorong bagi proses demokratisasi.
Tujuh, era
posmodernisme juga ditandai dengan munculnya kecenderungan bagi
tumbuhnya eklektisisme dan pencampuradukan dari berbagai wacana, potret
serpihan-serpihan realitas, sehingga seseorang sulit untuk ditempatkan
secara ketat pada kelompok budaya secara eksklusif.
Delapan,
bahasa yang digunakan dalam waacana posmodernisme seringkali mengesankan
ketidakjelasan makna dan inkonsistensi sehingga apa yang disebut “era
posmodernisme” banyak mengandung paradoks
DAFTAR PUSTAKA
Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani, 2008. Filsafat Umum. Pustaka Setia, Bandung.
Akbar S. Ahmed. Posmodernisme and Islam. 1992
Bambang Sugiharto. Postmodernisme:Tantangan bagi Filsafat. Yogyakarta,Kanisius, 1996.
Frans Magnis Suseno, Pijar-Pijar Filsafat, Yogyakarta. Yogyakarta, Kanisius, 2005.
Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta, Penerbit Kanisius. 1980.
Bambang Sugiharto. Postmodernisme:Tantangan bagi Filsafat. Yogyakarta,Kanisius, 1996.
Frans Magnis Suseno, Pijar-Pijar Filsafat, Yogyakarta. Yogyakarta, Kanisius, 2005.
Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta, Penerbit Kanisius. 1980.
Fenomonologi
By : Fitrah Ali Yusuf Abdillah
Fenomonologi
Edmun
Husserl (1859-1938) menjadi pelopor filsafat fenomenologi. Ia adalah
seorang filosof dan matematikus mengenai intensionalisme atau pengarahan
melahirkan filsafat fenomenologi berdasarkan pemikiran Brentano. Ia
selalu berupaya ingin mendekati realitas tidak melalui argumen-argumen,
konsep-konsep atau teori umum. “Zuruck zu den sachen selbst”-
kembali kepada benda-benda itu sendiri merupakan inti dari pendekatan
yang dipakai untuk mendeskripsikan realitas menurut apa adanya. Setiap
objek memiliki hakikat, dan hakikat itu berbicara kepada kita jika kita
membuka diri kepada gejala-gejala yang kita terima. Kalau kita
“mengambil jarak” dari objek itu melepaskan objek itu dari
pandangan-pandangan lain, dan gejala-gejala itu kita cermati, maka objek
itu berbicara sendiri mengenai hakikatnya, dan kita memahaminya berkat
intuisi dalam diri kita.
Fenomen
atau fenomenon memiliki berbagai arti, yaitu: gejala semu atau lawan
bendanya sendiri (penampakan). Menurut para pengikut fenomenologi, suatu
fenomen tidak perlu harus dapat diamati dengan indera, sebab fenomen
dapat juga di lihat secara rohani, tanpa melewati indera. Untuk
sementara dapat dikatakan, bahwa menurut para pengikut filsafat
fenomenologi, fenomen adalah “apa yang menampakkan diri dalam dirinya
sendiri”, apa yang menampakkan diri seperti apa adanya, apa yang jelas
di hadapan kita.
Secara
harfiah fenomenologi atau fenomenalisme adalah aliran atau faham yang
menganggap bahwa fenomenalisme (gejala) adalah sumber pengetahuan dan
kebenaran. Fenomenalisme bergerak di bidang yang pasti. Hal yang
menampakkan dirinya dilukiskan tanpa meninggalkan bidang evidensi yang
langsung. Fenomenalisme adalah suatu metode pemikiran, “a way of looking at things”.
Fenomenalisme adalah tambahan pada pendapat Brentano bahwa subjek dan
objek menjadi satu secara dialektis. Tidak mungkin ada hal yang melihat.
Inti dari fenomenalisme adalah tesis dari “intensionalisme” yaitu hal
yang disebut konstitusi.
Filsafat
Fenomenologi berusaha untuk mencapai pengertian yang sebenarnya yang
dinamakan untuk mencapai “hakikat segala sesuatu”. Untuk mencapai
hakikat segala sesuatu itu melalui reduksi.
Para
ahli tertentu mengartikan Fenomenologi sebagai suatu metode dalam
mengamati, memahami, mengartikan, dan memaknakan sesuatu sebagai
pendirian atau suatu aliran filsafat.
Dalam
pengertian suatu metode, Kant dan Husserl, mengatakan bahwa apa yang
diamati hanyalah fenomena, bukan sumber gejala itu sendiri. Dengan
demikian, terhadap sesuatu yang diamati terdapat hal-hal yang membuat
pengamatannya tidak murni. Tiga hal yang perlu disisihkan dari usaha
menginginkan kebenaran yang murni, yaitu:
a. Membebaskan diri dari anasir atau unsur subjektif,
b. Membebaskan diri dari kungkungan teori, dan hipotesis, serta
c. Membebaskan diri dari doktrin-doktrin tradisional.
Setelah mengalami reduksi yang pertama tingkat pertama, yaitu reduksi fenomenologi atau reduksi epochal,
fenomena yang dihadapi menjadi fenomena yang murni, tetapi belum
mencapai hal yang mendasar atau makna sebenarnya. Oleh karena itu, perlu
dilakukan reduksi kedua yang disebut reduksi eiditis. Melalui reduksi
kedua, fenomena yang kita hadapi mampu mencapai inti atau esensi. Kedua
reduksi tersebut adalah mutlak. Selain kedua reduksi tersebut terdapat
reduksi ketiga dan yang berikutnya dengan maksud mendapatkan pengamatan
yang murni, tidak terkotori oleh unsur apa pun, serta dalam usaha
mencari kebenaran yang tertinggi.
Tokoh-tokoh fenomenologi yang lain adalah, Max Scheller (1874-1928), Maurice Merleau-Ponty (1908-1961).
Strukturalisme
By : Fitrah Ali Yusuf Abdillah
Strukturalisme
Strukturalisme merupakan suatu gerakan pemikiran filsafat yang mempunyai
pokok pikiran bahwa semua masyarakat dan kebudayaan mempunyai suatu
struktur yang sama dan tetap. Ciri khas strukturalisme ialah pemusatan
pada deskripsi keadaan aktual obyek melalui penyelidikan, penyingkapan
sifat-sifat instrinsiknya yang tidak terikat oleh waktu dan penetapan
hubungan antara fakta atau unsur-unsur sistem tersebut melalui
pendidikan. Strukturalisme menyingkapkan dan melukiskan struktur inti
dari suatu obyek (hirarkinya, kaitan timbal balik antara unsur-unsur
pada setiap tingkat) (Bagus, 1996: 1040). Gagasan-gagasan strukturalisme
juga mempunyai metodologi tertentu dalam memajukan studi
interdisipliner tentang gejala-gejala budaya, dan dalam mendekatkan
ilmu-ilmu kemanusiaan dengan ilmu-ilmu alam. Akan tetapi introduksi
metode struktural dalam bermacam bidang pengetahuan menimbulkan upaya
yang sia-sia untuk mengangkat strukturalisme pada status sistem
filosofis. (Bagus, 1996: 1040)
Sejarah dan Perkembangan
Strukturalisme begitu berpengaruh pada pemikiran di kalangan ilmuwan sosial di tahun 1960-an, terutama di Perancis. Era strukturalisme ini muncul setelah era eksistensialisme yang marak setelah Perang Dunia II. Strukturalisme melakukan beberapa kritik terhadap eksistensialisme dan juga pemikiran fenomenologi. Strukturalisme dianggap menghancurkan posisi manusia sebagai peran utama dalam memandang dan membentuk dunia.
Strukturalisme berkembang pesat di Perancis dengan tokoh-tokoh utama selain Claude Levi-Strauss, yaitu Micheal Foucault, J. Lacan, dan R. Barthes. Aliran ini muncul ketika filsafat eksistensialisme mulai pudar. Masyarakat yang semakin kaya dan dikendalikan oleh berbagai bentuk struktur ilmiah-tekno-ekonomis mapan dan terkomputerisasi memudarkan aliran humanisme romantis eksistensialis yang berkisar pada subyek otonom, daya cipta perorangan, penciptaan makna, dan pilihan proyek masa depan serta dunia bersama sebagai tempat tinggal yang manusiawi. Usaha eksistensialisme untuk mengubah dan memperbaiki keadaan tersebut tidak berdaya dihadapkan pada kenyataan-kenyataan struktur yang makin kuat yang mengutamakan kemantapan dan keseimbangan struktural daripada dinamika kreatif dari si subyek. Dengan diilhami oleh Marx dan Freud, para strukturalis menyangsikan istilah-istilah kaya kunci eksistensialis seperti, "manusia", "kesadaran intensional", "subyek", "kebebasan", "otonomi" dan menggantinya dengan istilah-istilah mereka, yaitu: "ketidaksadaran", "struktur", "diskursus", "penanda" dan "pertanda".
Meskipun banyak pertentangan antara eksistensialisme dan strukturalisme tapi ada juga yang saling melengkapi. Dalam pandangan strukturalis manusia terjebak dalam suatu struktur budaya yang dijalinnya sendiri. Ketika manusia lahir ia sudah ada dalam suatu struktur, ia memiliki peran, meskipun kemudian ia mampu memilih atau membuat sendiri sebuah struktur, tapi ia kembali akan terjebak di dalamnya. Pandangan ini mirip dengan faktisitasnya Heidegger dimana manusia terlempar ke dunia tanpa bisa dirundingkan lebih dulu. Perbedaannya faktisitas mengandaikan adanya kebebasan yang menegaskan eksistensialitas manusia. Sedangkan keterjebakkan manusia dalam jaring-jaring struktur mengandaikan hilangnya unsur subyek dan obyek, semua hanyalah bagian dari tenunan struktur. Strukturalisme begitu berpengaruh pada pemikiran di kalangan ilmuwan sosial di tahun 1960-an, terutama di Perancis. Era strukturalisme ini muncul setelah era eksistensialisme yang marak setelah Perang Dunia II. Strukturalisme melakukan beberapa kritik terhadap eksistensialisme dan juga pemikiran fenomenologi. Strukturalisme dianggap menghancurkan posisi manusia sebagai peran utama dalam memandang dan membentuk dunia.
Sejarah dan Perkembangan
Strukturalisme begitu berpengaruh pada pemikiran di kalangan ilmuwan sosial di tahun 1960-an, terutama di Perancis. Era strukturalisme ini muncul setelah era eksistensialisme yang marak setelah Perang Dunia II. Strukturalisme melakukan beberapa kritik terhadap eksistensialisme dan juga pemikiran fenomenologi. Strukturalisme dianggap menghancurkan posisi manusia sebagai peran utama dalam memandang dan membentuk dunia.
Strukturalisme berkembang pesat di Perancis dengan tokoh-tokoh utama selain Claude Levi-Strauss, yaitu Micheal Foucault, J. Lacan, dan R. Barthes. Aliran ini muncul ketika filsafat eksistensialisme mulai pudar. Masyarakat yang semakin kaya dan dikendalikan oleh berbagai bentuk struktur ilmiah-tekno-ekonomis mapan dan terkomputerisasi memudarkan aliran humanisme romantis eksistensialis yang berkisar pada subyek otonom, daya cipta perorangan, penciptaan makna, dan pilihan proyek masa depan serta dunia bersama sebagai tempat tinggal yang manusiawi. Usaha eksistensialisme untuk mengubah dan memperbaiki keadaan tersebut tidak berdaya dihadapkan pada kenyataan-kenyataan struktur yang makin kuat yang mengutamakan kemantapan dan keseimbangan struktural daripada dinamika kreatif dari si subyek. Dengan diilhami oleh Marx dan Freud, para strukturalis menyangsikan istilah-istilah kaya kunci eksistensialis seperti, "manusia", "kesadaran intensional", "subyek", "kebebasan", "otonomi" dan menggantinya dengan istilah-istilah mereka, yaitu: "ketidaksadaran", "struktur", "diskursus", "penanda" dan "pertanda".
Meskipun banyak pertentangan antara eksistensialisme dan strukturalisme tapi ada juga yang saling melengkapi. Dalam pandangan strukturalis manusia terjebak dalam suatu struktur budaya yang dijalinnya sendiri. Ketika manusia lahir ia sudah ada dalam suatu struktur, ia memiliki peran, meskipun kemudian ia mampu memilih atau membuat sendiri sebuah struktur, tapi ia kembali akan terjebak di dalamnya. Pandangan ini mirip dengan faktisitasnya Heidegger dimana manusia terlempar ke dunia tanpa bisa dirundingkan lebih dulu. Perbedaannya faktisitas mengandaikan adanya kebebasan yang menegaskan eksistensialitas manusia. Sedangkan keterjebakkan manusia dalam jaring-jaring struktur mengandaikan hilangnya unsur subyek dan obyek, semua hanyalah bagian dari tenunan struktur. Strukturalisme begitu berpengaruh pada pemikiran di kalangan ilmuwan sosial di tahun 1960-an, terutama di Perancis. Era strukturalisme ini muncul setelah era eksistensialisme yang marak setelah Perang Dunia II. Strukturalisme melakukan beberapa kritik terhadap eksistensialisme dan juga pemikiran fenomenologi. Strukturalisme dianggap menghancurkan posisi manusia sebagai peran utama dalam memandang dan membentuk dunia.
Materialisme
By : Fitrah Ali Yusuf Abdillah
Materialisme
Materialisme
adalah salah satu paham filsafat yang banyak dianut oleh para filosof,
seperti Demokritus, Thales, Anaximanoros dan Horaklitos. Paham ini
menganggap bahwa materi berada di atas segala-galanya dan biasanya paham
ini dihubung-hubungkan dengan teori atomistik yang berpendapat bahwa benda-benda
tersusun dari sejumlah unsur. Ketika paham ini pertama muncul, paham
tersebut tidak mendapat banyak perhatian karena banyak ahli filsafat
yang menganggap bahwa paham ini aneh dan mustahil. Namun pada sekitar
abad 19 paham materialisme ini tumbuh subur di Barat karena sudah banyak
para filosof yang menganut paham tersebut. Walaupun teori sudah banyak
dianut para filosof, teori ini masih banyak ditentang oleh para tokoh
agama karena paham ini dianggap tidak mengakui adanya Tuhan dan dianggap
tidak dapat melukiskan kenyataan.
Pengertian dan Beberapa Ajaran Materialisme
Materialisme seringkali
diartikan sebagai suatu aliran filsafat yang meyakini bahwa tidak ada
sesuatu selain materi yang sedang bergerak. Pikiran, roh, kesadaran dan
jiwa tidak lain hanyalah materi yang sedang bergerak. Menurut mereka,
pikiran memang ada tetapi tak lain disebabkan dan sangat tergantung pada
perubahan-perubahan material. Intinya, mereka menganggap bahwa materi
berada di atas segala-galanya. Beberapa pendapat mereka yang lain
adalah:
-
-
-
-
Tidak ada sesuatu yang bersifat non-material separti roh, hantu, setan, malaikat. Pelaku-pelaku immaterial tidak ada.
-
Tidak ada Tuhan atau dunia adikodrati (supranatural). Realitas satu-satunya adalah materi dan segala sesuatu merupakan manifestasi aktivitas materi.
-
Setiap peristiwa mempunyai sebab material, dan penjelasan material tentang semua itu merupakan satu-satunya penjelasan yang tepat.
-
Materi dan aktivitasnya bersifat abadi. Tidak ada Sebab Pertama atau Penggerak Pertama.
-
Bentuk material dari barang-barang dapat diubah, tapi materi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan.
-
Tidak ada kehidupan yang kekal. Semua gejala berubah, akhirnya melampaui eksistensi yang kembali lagi ke dasar material primordial, abadi dalam suatu peralih-wujudan kembali yang abadi dari materi.
-
-
-
Sejarah Perkembangan Materialisme
Pada awalnya, materialisme
tidak mendapat banyak perhatian karena dianggap aneh dan mustahil. Baru
pada abad pertengahan abad 19, materialisme tumbuh subur sekali di
Barat. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan tersebut antara
lain:
-
Orang dengan paham materialisme mempunyai harapan-harapan yang besar atas ilmu pengetahuan.
-
Paham materialisme berpegang pada kenyataan-kenyataan yang mudah dimengerti, bukan pada dalil-dalil abstrak.
-
Teori-teorinya jelas berdasarkan teori-teori pengetahuan yang sudah umum.
Namun, paham materialisme
banyak ditentang oleh para tokoh agama karena terang-terangan tidak
mengakui Tuhan. Seorang anti-materialisme bernama Friedrich Paulsen
berkata “Kalau materialisme itu benar, maka segala sesuatu di dunia ini
akan dapat diterangkan, termasuk bagaimana atom membentuk teori
materialisme itu sendiri yaitu dapat berfikir dan berfilfasaf”. tenyata
hal itu sama sekali tak dapat diterangkan oleh kaum materialisme.
Filsafat
materialisme inilah yang mempengaruhi filosof alam dalam menyelidiki
asal-usul kejadian alam ini. Di antara filosof-filosof alam tersebut
adalah:
-
Thales (625-545 SM) berpendapat bahwa unsur asal adalah air.
-
Anaximandros (610-545 SM) berpendapat bahwa unsur asal adalah apeiron, yaitu unsur yang tak terbatas.
-
Anaximenes (585-528 SM) berpendapat bahwa unsur asal adalah udara.
-
Heraklitos (540-475 SM) berpendapat bahwa unsur asal adalah api.
-
Demokritus (460-360 SM) berpendapat bahwa hakikat alam adalah atom-atom yang amat banyak dan halus. Atom-atom itulah yang menjadi asal kejadian alam semesta.
Kaum
materialisme menyangkal adanya jiwa atau roh, mereka menganggapnya
hanya sebagai pancaran materi. Thomas Hobbes (1588-1679), seorang ahli
pikir Inggris beralasan bahwa seperti perjalanan yang tidak lepas dari
orang yang berjalan, demikian juga gagasan, sebagai sesuatu yang
bersifat rohani juga tidak lepas dari organisme yang berpikir, yang
mempunyai gagasan. Materialisme pada abad 18 dan 19 seringkali sangat
bersifat mekanistis, seperti pernah diutarakan oleh Holbach (1723-1789)
bahwa segi manusia yang tidak kelihatan disebut jiwa, sedangkan segi
alam yang tidak kelihatan disebut Tuhan.
Materialisme Dialektika
Di negara-negara komunis, materialisme dialektika merupakan filsafat resmi negara, disingkat menjadi “ diamat ”
(dialektika materialisme). Secara singkat, dialektika beranggapan bahwa
segala perubahan yang terjadi di alam semesta adalah akibat dari
konflik persaingan dan kepentingan pribadi antar kekuatan yang saling
bertentangan.
Ahli-ahli pikir yang meletakkan dasar
bagi sistem ini adalah Karl Marx (1818-1883) dan Friederich Engels
(1820-1895), sedangkan W.E. Lenin mengembangkannya lebih lanjut. Marx
dan Engels menggunakan dialektika untuk menjelaskan keseluruhan sejarah
dunia. Marx menyatakan bahwa sejarah kemanusiaan senantiasa didasarkan
pada konflik, yang terutama antara kaum buruh (proletar) dan masyarakat
kelas atas (borjuis). Ia meramalkan bahwa kaum buruh pada akhirnya akan
menyadari bahwa harapan satu-satunya untuk mereka adalah bersatu dan
melakukan revolusi. Sebelum Marx juga telah ada seorang perintis benama
Tschernyschewski (+1889).
Sarjana ini melawan dualisme jiwa-badan dengan berpendapat bahwa
manusia dapat diterangkan secara tuntas dengan bantuan ilmu kimia dan
fisiologi. Yang dianggap sebagai rohani sebenarnya adalah sifat
keteraturan dalam organisme yang memberikan reaksi.
Tschernyschewski
juga mempengaruhi gurunya Ivan Pavlov (1845-1936). Pavlov melakukan
serangkaian eksperimen terhadap anjing yang dibiasakan untuk diberi
makanan sambil dibunyikan bel. Anjing tersebut mengeluarkan air liur.
Lama-kelamaan, anjing tersebut berliur hanya karena mendengar bel tanpa
ada makanan. Pavlov menyebut refleks ini (berliur karena mendengar bel)
sebagai refleks bersyarat. Dari sini Pavlov berpendapat bahwa seluruh
proses belajar hewani dapat diterangkan lewat refleks-refleks bersyarat.
Marx,
Engels dan Lenin juga mengakui bahwa alam rohani mempunyai sifat-sifat
khas, tetapi secara dialektika ini tergantung kepada materi. Faham
materialisme kuno menjadikan mesin sebagai ukuran untuk menerangkan
alam, kehidupan hewani dan manusia. Pendekatan ini tentu tidak memadai
karena dunia hendaknya dipandang sebagai suatu proses yang dinamis.
Dalam
dialektika alam raya, perkembangan dan penjumlahan kwantitatif pada
suatu ketika berbalik secara dialektik dan terjadi suatu perubahan
kwantitatif. Lompatan kwantitatif dari energi menjadi unsur kimia. Terus
menjadi zat hidup terus lagi menjadi roh merupakan tahap-tahap
dialektika dalam alam kebendaan yang dinamis. Tak ada materi tanpa gerak
dan dalam perkembangan ini segala sesuatu saling bertalian, tak ada
satu gejala yang dapat dimengerti lepas dari gejala-gejala lainnya
(lewat abstraksi-abstraksi kita hanya membuat momen-momen saja).
Demikianlah teori Hegel diputar dan ditegakkan secara dialektika. Bukan
materi yang merupakan hasil dari roh yang berkembang secara dialektika
melainkan sebaliknya.
Hegel
mengambarkan bagaiman roh mengasingkan diri dari dirinya sendiri karena
dalam kenyataan semakin menjadi lahiriah. Hal ini terutama
ditampilkannya dalam konsep tentang materi. Menurut Marx pun terjadi
semacam pengasingan. Pengasingan itu tak lain adalah kesadaran manusia
yang menyatakan diri lewat kerja sama sosial di dalam obyek yakni
produk. Produk itulah kesadaran sosial yang terasing terhadap dirinya
sendiri. Jadi pengasingan ini niscaya tetapi setiap kali harus
dinetralisir lagi dengan menyadarinya. Kesadaran manusia ditentukan oleh
keadaan sosialnya dan proses penyadaran diri itu tidak berarti bahwa
manusia mengotak-atik hal-hal rohani seperti Hegel melainkan bahwa ia
berbuat sesuatu, terdorong oleh kesadaran sosial menuju hari depan.
Ide-ide,
menurut Marx tak lain adalah terjemahan barang-barang material yang
mengendap dalam kepala manusia. Dan ideologi-ideologi merupakan
pengelompokan ide-ide. Ideologi-ideologi selalu bersifat konservatif,
ingin mempertahankan konstelasi sosial tertentu (feodalime, kapitalisme)
dengan menyelimuti kenyataan sosial atau mempercantiknya (misalnya
dalam faham idealisme hal ini terjadi dengan bantuan filsafat.
Bandingkan juga “agama merupakan candu bagi masyarakat”). Hanya
materialisme dialektikalah yang merupakan suatu ideologi progresif yang
mengungkapkan praxis sosial secara murni dan yang sebaliknya juga
merangsang kemajuan sosial.
Dari sini
dapat kita simpulkan bahwa materialisme dialektika berlawanan dengan
materialisme kuno yang justru ingin mengakui subyek yang aktif, manusia
dijadikan kunci memahami alam raya dan materi. Gambaran dialektika
mengenai materi dan evolusi kehidupan yang baru dapat dimengerti dari
titik akhir evolusi itu ialah dorongan sosial menuju negara sosialis
yang mereka anggap membahagiakan. Materialisme dialektika ini ternyata
memperlihatkan kekurangan khususnya dalam tulisan Lenin dan Stalin
karena kesadaran dilukiskan sebagai pencerminan terhadap alam kebendaan.
Marx dalam tulisan-tulisan awal menunjukkan hal lain justru karena
demikian menghargai kehidupan sosial serta memberikan peranan aktif
kepada kesadaran dan idelogi. Maka ia menyimpulkan bahwa kesadaran itu
biarpun tidak boleh ditafsirkan secara idealistis dan lepas dari
kehidupan sosial, namun tidak lebih rendah dari materi atau tergantung
pada materi.
Kesimpulan
Materialisme adalah salah satu paham
filsafat yang banyak dianut oleh para filosof, seperti Demokritus,
Thales, Anaximanoros dan Horaklitos. Paham ini menganggap bahwa materi
berada di atas segala-galanya. Ketika paham ini pertama muncul, paham
tersebut tidak mendapat banyak perhatian karena banyak ahli filsafat
yang menganggap bahwa paham ini aneh dan mustahil. Namun pada sekitar
abad 19 paham materialisme ini tumbuh subur di Barat karena sudah banyak
para filosof yang menganut paham tersebut.
Filsafat
materialisme inilah yang mempengaruhi filosof alam dalam menyelidiki
asal-usul kejadian alam ini. Di antara filosof-filosof alam tersebut
adalah:
-
Thales (625-545 SM) berpendapat bahwa unsur asal adalah air.
-
Anaximenes (585-528 SM) berpendapat bahwa unsur asal adalah udara.
-
Heraklitos (540-475 SM) berpendapat bahwa unsur asal adalah api.
-
Demokritus (460-360 SM) berpendapat bahwa hakikat alam adalah atom-atom yang amat banyak dan halus. Atom-atom itulah yang menjadi asal kejadian alam semesta.
Sedangkan
materialisme dialektika secara singkat dapat diterangkan sebagai paham
yang berkeyakinan bahwa segala perubahan yang terjadi di alam semesta
adalah akibat dari konflik persaingan dan kepentingan pribadi antar
kekuatan yang saling bertentangan. Ahli-ahli pikir yang meletakkan dasar
bagi sistem ini adalah Karl Marx (1818-1883) dan Friederich Engels
(1820-1895). Marx dan Engels menggunakan dialektika untuk menjelaskan
keseluruhan sejarah dunia. Marx menyatakan bahwa sejarah kemanusiaan
senantiasa didasarkan pada konflik, yang terutama antara kaum buruh
(proletar) dan masyarakat kelas atas (borjuis). Ia meramalkan bahwa kaum
buruh pada akhirnya akan menyadari bahwa harapan satu-satunya untuk
mereka adalah bersatu dan melakukan revolusi. Di negara-negara komunis,
materialisme dialektika merupakan filsafat resmi negara.
Eksistensialisme
By : Fitrah Ali Yusuf Abdillah
Eksistensialisme
Istilah eksistensialisme dikemukakan oleh ahli filsafat Jerman Martin
Heidegger (1889-1976). Eksistensialisme adalah merupakan filsafat dan
akar metodologinya berasal dari metoda fenomologi yang dikembangkan oleh
Hussel (1859-1938). Munculnya eksistensialisme berawal dari ahli
filsafat Kieggard dan Nietzche. Kiergaard Filsafat Jerman (1813-1855)
filsafatnya untuk menjawab pertanyaan “Bagaimanakah aku menjadi seorang
individu)”. Hal ini terjadi karena pada saat itu terjadi krisis
eksistensial (manusia melupakan individualitasnya). Kiergaard menemukan
jawaban untuk pertanyaan tersebut manusia (aku) bisa menjadi individu
yang autentik jika memiliki gairah, keterlibatan, dan komitmen pribadi
dalam kehidupan. Nitzsche (1844-1900) filsuf jerman tujuan filsafatnya
adalah untuk menjawab pertanyaan “bagaimana caranya menjadi manusia
unggul”. Jawabannya manusia bisa menjadi unggul jika mempunyai
keberanian untuk merealisasikan diri secara jujur dan berani
Eksistensialisme merupakan filsafat yang secara khusus
mendeskripsikan eksistensi dan pengalaman manusia dengan metedologi
fenomenologi, atau cara manusia berada. Eksistensialisme adalah suatu
reaksi terhadap materialisme dan idealisme. Pendapat materialisme bahwa
manusia adalah benda dunia, manusia itu adalah materi , manusia adalah
sesuatu yang ada tanpa menjadi Subjek. Pandangan manusia menurut
idealisme adalah manusia hanya sebagai subjek atau hanya sebagai suatu
kesadaran. Eksistensialisme berkayakinan bahwa paparan manusia harus
berpangkalkan eksistensi, sehingga aliran eksistensialisme penuh dengan
lukisan-lukisan yang kongkrit.
Eksistensi oleh kaum eksistensialis disebut Eks bearti keluar,
sintesi bearti berdiri. Jadi ektensi bearti berdiri sebagai diri sendiri
Gerakan eksistensialis dalam pendidikan berangkat dari aliran
filsafat yang menamakan dirinya eksistensialisme, yang para tokohnya
antara lain Kierkegaard (1813 – 1915), Nietzsche (1811 – 1900) dan Jean
Paul Sartre. Inti ajaran ini adalah respek terhadap individu yang unik
pada setiap orang. Eksistensi mendahului esensi. Kita lahir dan eksis
lalu menentukan dengan bebas esensi kita masing-masing. Setiap individu
menentukan untuk dirinya sendiri apa itu yang benar, salah, indah dan
jelek. Tidak ada bentuk universal, setiap orang memiliki keinginan untuk
bebas (free will) dan berkembang. Pendidikan seyogyanya menekankan
refleksi yang mendalam terhadap komitmen dan pilihan sendiri.
Manusia adalah pencipta esensi dirinya. Dalam kelas guru berperan
sebagai fasilitator untuk membiarkan siswa berkembang menjadi dirinya
dengan membiarkan berbagai bentuk pajanan (exposure) dan jalan untuk
dilalui. Karena perasaan tidak terlepas dari nalar, maka kaum
eksistensialis menganjurkan pendidikan sebagai cara membentuk manusia
secara utuh, bukan hanya sebagai pembangunan nalar. Sejalan dengan
tujuan itu, kurikulum menjadi fleksibel dengan menyajikan sejumlah
pilihan untuk dipilih siswa. Kelas mesti kaya dengan materi ajar yang
memungkinkan siswa melakukan ekspresi diri, antara lain dalam bentuk
karya sastra film, dan drama. Semua itu merupakan alat untuk
memungkinkan siswa ‘berfilsafat’ ihwal makna dari pengalaman hidup,
cinta dan kematian.
Eksistensialisme biasa dialamatkan sebagai salah satu reaksi dari
sebagian terbesar reaksi terhadap peradaban manusia yang hampir punah
akibat perang dunia kedua.[1] Dengan demikian Eksistensialisme pada
hakikatnya adalah merupakan aliran filsafat yang bertujuan mengembalikan
keberadaan umat manusia sesuai dengan keadaan hidup asasi yang dimiliki
dan dihadapinya.
Sebagai aliran filsafat, eksistensialisme berbeda dengan filsafat
eksistensi. Paham Eksistensialisme secara radikal menghadapkan manusia
pada dirinya sendiri, sedangkan filsafat eksistensi adalah benar-benar
sebagai arti katanya, yaitu: “filsafat yang menempatkan cara wujud
manusia sebagai tema sentral.”[2]
Secara singkat Kierkegaard memberikan pengertian eksistensialisme
adalah suatu penolakan terhadap suatu pemikiran abstrak, tidak logis
atau tidak ilmiah. Eksistensialisme menolak segala bentuk kemutkan
rasional.[3] Dengan demikian aliran ini hendak memadukan hidup yang
dimiliki dengan pengalaman, dan situasi sejarah yang ia alami, dan tidak
mau terikat oleh hal-hal yang sifatnya abstrak serta spekulatif.
Baginya, segala sesuatu dimulai dari pengalaman pribadi, keyakinan yang
tumbuh dari dirinya dan kemampuan serta keluasan jalan untuk mencapai
keyakinan hidupnya.
Atas dasar pandangannya itu, sikap di kalangan kaum Eksistensialisme
atau penganut aliran ini seringkali Nampak aneh atau lepas dari
norma-norma umum. Kebebasan untuk freedom to[4] adalah lebih banyak
menjadi ukuran dalam sikap dan perbuatannya.
Pandangannya tentang prendidikan, disimpulkan oleh Van Cleve Morris
dalam Existentialism and Education, bahwa “Eksistensialisme tidak
menghendaki adanya aturan-aturan pendidikan dalam segala bentuk.”[5]
Oleh sebab itu Eksistensialisme dalam hal ini menolak bentuk-bentuk
pendidikan sebagaimana yang ada sekarang. Namun bagaimana konsep
pendidikan eksistensialisme yang diajukan oleh Morris sebagai
“Eksistensialisme’s concept of freedom in education”, menurut Bruce F.
Baker, tidak memberikan kejelasan. Barangkali Ivan Illich dengan
Deschooling Society, yang banyak mengundang reaksi di kalangan ahli
pendidikan, merupakan salah satu model pendidikan yang dikehendikan
aliran Eksistensialisme tidak banyak dibicarakan dalam filsafat
pendidikan.
Pandangan eksistensialisme adalah:
Menurut metafisika: (hakekat kenyataan) pribadi manusia tak sempurna, dapat diperbaiki melalui penyadaran diri dengan menerapkan prinsip & standar pengembangan ke pribadian
Epistimologi: (hakekat pengetahuan), data-internal–pribadi, acuannya kebebasan individu memilih
Logika: (hakekat penalaran), mencari pemahaman tentang kebutuhan & dorongan internal melaui analis & introfeksi diri \
Aksiologi (hakekat nilai), Standar dan prinsip yang bervariasi pada tiap individu bebas untuk dipilih-diambil
Etika (hakekat kebaikan), tuntutan moral bagi kepentingan pribadi tanpa menyakiti yang lain
Estetika (hakekat keindahan), keindahan ditentukan secara individual pada tiap orang oleh dirinya
Tujuan hidup menyempurnakan diri melalui pilihan standar secara bebas oleh tiap individu, mencari kesempurnaan hidup
Menurut metafisika: (hakekat kenyataan) pribadi manusia tak sempurna, dapat diperbaiki melalui penyadaran diri dengan menerapkan prinsip & standar pengembangan ke pribadian
Epistimologi: (hakekat pengetahuan), data-internal–pribadi, acuannya kebebasan individu memilih
Logika: (hakekat penalaran), mencari pemahaman tentang kebutuhan & dorongan internal melaui analis & introfeksi diri \
Aksiologi (hakekat nilai), Standar dan prinsip yang bervariasi pada tiap individu bebas untuk dipilih-diambil
Etika (hakekat kebaikan), tuntutan moral bagi kepentingan pribadi tanpa menyakiti yang lain
Estetika (hakekat keindahan), keindahan ditentukan secara individual pada tiap orang oleh dirinya
Tujuan hidup menyempurnakan diri melalui pilihan standar secara bebas oleh tiap individu, mencari kesempurnaan hidup




